TANJUNG LESUNG, AKURATNEWS.co – Minggu (18/2) pagi, Kampung Joglo Tanjung Lesung, Banten diramaikan puluhan anak-anak. Mereka berkumpul guna mengikuti Creative Class bertema ‘Face Nature’.
Acara yang diinisiasi desainer yang juga art curation, Migi Rihasalay beserta sang suami Andrew James ini mencoba mendekatkan anak-anak sekitar Kampung Joglo untuk mengenali jenis-jenis objek alam dan memfungsikan limbah alam menjadi sebuah karya seni.
Anak-anak ini coba diperkenalkan dengan limbah yang berasal dari alam, seperti daun kering, batu, akar, buah, bunga, biji-bijian dan kardus bekas digunting dan disusun menjadi sebuah sketsa wajah dengan berbagai emosi.
“Yang kita dihadirkan face of nature yang artinya wajah dengan alam. Dengan kita menggunakan limbah dari alam tadi, tujuannya agar anak-anak peduli dengan lingkungan. Jika mereka melihat sampah, yang pertama kali dipikirkan adalah mau diapain sampah-sampah alam itu dan anak-anak sangat senang mengerjakannya,” ujar Migi seraya menambahkan jika cara seperti ini diyakininya bisa memotivasi anak-anak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Dijelaskan Migi lagi, pengenalan akan konsep peduli terhadap lingkungan lewat kepedulian pada limbah alam ini juga diterapkan dengan berbagai konsep.
“Tidak melulu menggambar atau menata saja, tapi juga melukis di botol atau dan benda lainnya. Konsepnya akan terus berganti setiap dua sampai tiga bulan sekali untuk anak-anak di sekitar Kampung Joglo ini dan sudah kita lakukan sejak dua tahun lalu,” ujar Migi.

Ditambahkan sang suami, Andrew James, upaya memanfaatkan limbah alam juga sudah diaplikasikan Kampung Joglo lewat penggunaan material limbah kayu yang digunakan sebagai material bangunan.
“Sebenarnya gedung Kampung Joglo ini dibuat dari limbah kayu yang didapat dari Jepara, Jawa Tengah lalu dipindahkan kesini,” ujar Andrew.
Migi pun akan mengembangkan program ini agar diikuti lebih banyak lagi anak-anak di sekitar Kampung Joglo.
“Untuk sekarang, 35 sampai 45 anak yang ikut, nantinya setiap ada acara seperti ini kita pasti tambah 10 sampai 15 orang. Kita bayangkan untuk beberapa tahun ke depan mungkin bisa sampai 200 anak,” ucap Migi.
Pamungkas, Migi menekankan, filosofi dari kegiatan ini adalah upaya menghargai hal sekecil apapun di sekitar kita.
“Termasuk limbah agar bisa menjadi indah,” pungkas Migi. (NVR)
