JEMBER, AKURATNEWS.co – Dua momen penting dimaknai desainer Migi Rihasalay saat pertama kalinya mengikuti ajang Jember Fashion Carnival (JFC) 2024.

Keikutsertaan Migi yang merupakan kali pertama ini disebutnya sebagai sebuah momen ‘Tribute to Dynan Faridz’.

Ternyata Migi pernah menjadi murid penggagas JFC, Dynand Fariz saat menimba ilmu di sekolah tata busana ESMOD pada 2018.

“Mr Dynan itu dosen saya, beliau selama setahun mengajar dan mendidik di serta membimbing saya. Saya sangat dekat sekali, seperti ayah saya sendiri dan punya ikatan batin kuat,” ucap Migi di sela-sela perhelatan JFC 2024, Sabtu (3/8).

Sayangnya, sang guru ini tak bisa menyaksikan dirinya tampil di ajang JFC tahun ini lantaran telah meninggal. Hal inilah yang membuat Migi merasa sedih namun bangga lantaran bisa ikut serta memeriahkan ajang yang diinisiasi dosennya ini.

“Dia meninggal di 2018. Jujur saya selalu memimpikan beliau, setiap hari merindukan bagaimana cara beliau membimbing saya hingga sampai hari ini saya bisa menjadi sosok seperti ini,” ucap Migi mengenang sosok sang dosen.

Diceritakannya, Dynan kerap menyampaikan ilmunya dengan teknik penyampaian yang segar dan dengan  suasana ceria.

“Di kelas, beliau suka bercanda sehingga suasana cair dan kita bisa fokus kembali kepada materi yang disampaikan. Di situ membuat saya merasa dekat dengan beliau seperti seorang ayah dan anak,” imbuhnya.

Oleh karenanya, ia merasa kehadirannya di JFC 2024 ini sekaligus menjadi ‘Tribute to Dynan Faridz”, sang dosen yang juga inisiator JFC.

Dan kebanggannya terhadap sang dosen ini membuat Migi merasa kehadirannya di JFC 2024 sebagai sebuah momen dirinya menciptakan mimpi menggelar ajang serupa di Jakarta.

“Mimpi saya memang ingin membuat Jakarta Fashion Carnival mengikuti jejak Mr Dynan Faris. Sebagai muridnya, saya sudah bisa melihat dan melengkapi beberapa hal yang dia harapkan dalam pengembangan industri fashion. Nantinya  konsep yang dibawa seperti di Jember ini, yakni dari berbeda-beda tapi kita bersama,” ucap Migi.

Bicara soal keikutsertaannya di JFC 2024 ini, Migi mengusung konsep Rio de Village yang berasal dari Brazil, tepatnya kota Rio de Janeiro.

“Tema ini membawa suasana gembira yang memadukan kecerahan berbagai warna berseri. Perpaduan bulu-bulu dan kain perca yang tampak eksotis dan menawan yang dibuat dari limbah kain. Hampir seratus persen dibuat dari kain perca, plastik dan bahan lainnya yang ramah lingkungan,” jelas Migi.

Tampilan busana yang dibawakan 12 model asal Jember plus sang suami, Andrew James ini merupakan perpaduan dua warna yang kemudian membentuk gradasi dengan maksud menggambarkan warna senja.

Butuh waktu tiga bulan lamanya untuk menyelesaikan kostum dengan detail yag rumit ini. Terutama untuk mengolah kain-kain bekas yang disusun menjadi sebuah baju lengkap dengan ornamen sayap.

“Tantangan dalam mendesain kostum adalah bagaimana mengkombinasikan warna-warna cerah, apalagi in ikan artwear ya,” bebernya lagi.

Bicara soal keikutsertaannya di JFC 2024, suami Migi, Andrew James mengaku sangat terkesan lantaran ajang ini  merupakan ajang fashion carnival yang diikutinya ini adalah terbesar ketiga di dunia.

“Ini adalah karnaval terbesar di Southeast Asia (Asia Tenggara) dan terbesar ketiga di dunia. Bagaimana mungkin saya tidak merasa senang, kami bangga dan kami antusias,” seru Andrew.

Untuk diketahui, di JFC 2024, Artwear menjadi rangkaian acara JFC Algorithm 2024 pada hari kedua yang hanya khusus menampilkan berbagai macam busana fashion karya desainer ternama di Indonesia. (NVR)

By Editor1