JAKARTA, AKURATNEWS.co – Banyak masyarakat yang belum paham apa itu Neuralgia Trigeminal yang kerap punya gejala sakit hebat di pipi. Biasanya masyarakat menganggap sakit itu disebabkan oleh sakit gigi biasa dan datang ke dokter gigi.

Padahal, sakit di pipi itu bisa disebabkan Neuralgia Trigeminal yang merupakan kondisi neurologis yang memicu nyeri wajah yang sangat hebat dan sering salah diartikan sebagai masalah gigi.

Penyakit ini memengaruhi saraf trigeminal, yang mengatur sensasi di wajah, dan dapat menyebabkan rasa sakit luar biasa saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, berbicara, atau bahkan sekadar menyentuh wajah.

Di Indonesia sendiri, banyak pasien yang terlambat didiagnosis karena kurangnya edukasi dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan.

“Ada pasien Neuralgia Trigeminal yang datang ke kami dengan kondisi sudah habis giginya karena dicabut,” ungkap dr. Mustaqim Prasetya, SpBS, SubSp. N-Func (K) dari RS Pusat Otak Nasional (PON) di Jakarta, Jumat (4/10).

Orang dengan Neuralgia Trigeminal, lanjutnya, mungkin awalnya mengalami episode nyeri yang singkat dan ringan. Namun, kondisi ini bisa memburuk dan menyebabkan serangan nyeri hebat yang lebih sering terjadi serta waktu menetapnya nyeri lebih lama.

Insiden Neuralgia Trigeminal diperkirakan terjadi pada lima per 100.000 orang per tahun, dan meningkat seiring bertambahnya usia. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dan orang yang berusia lebih dari 40 tahun.

“Gejalanya berupa nyeri hebat di satu sisi wajah. Nyeri ini sangat intens sehingga saat pasien diminta mengukur dengan skala nyeri 1 hingga 10, trigeminal neuralgia mencapai skala 11 bahkan lebih. Nyeri datang tiba-tiba dan menyambar seperti kilat, seolah-olah ada sambaran listrik di wajah. Sering kali neuralgia trigeminal tidak langsung terdeteksi, pasien sudah menggunakan obat pereda nyeri dalam jangka panjang, atau dikaitkan dengan masalah saraf gigi. Tak jarang pasien merasa depresi dan putus asa hingga berpikir untuk mengakhiri hidupnya, karena itulah penyakit ini diberi julukan suicide disease,’” jelas dr Mustaqim.

Gejala nyeri pada Trigeminal Neuralgia ini berasal dari saraf trigeminal yang berada di setiap sisi wajah. Saraf ini memungkinkan seseorang merasakan berbagai sensasi di wajah.

Namun, pada Neuralgia Trigeminal terjadi penekanan pembuluh darah pada saraf trigeminal di pangkal otak yang memicu cedera selaput saraf dengan manifestasi rasa nyeri hebat pada wajah. Pembuluh darah tersebut bisa berupa arteri atau vena.

Meski kompresi oleh pembuluh darah adalah penyebab umum, ada banyak penyebab potensial lainnya seperti tumor atau kelainan pembuluh darah yang menekan saraf trigeminal, perlengketan struktur otak, serta cedera saraf pasca trauma wajah atau operasi juga bisa menjadi pemicu.

Penyakit seperti multiple sclerosis dan beberapa penyakit autoimun yang sebabkan kerusakan selubung mielin pelindung saraf juga dapat menyebabkan nyeri Neuralgia Trigeminal.

Penanganan Neuralgia Trigeminal biasanya dimulai dengan pemberian obat anti-kejang seperti carbamazepine. Namun, pasien sering mengeluhkan efek samping obat, seperti rasa kantuk berlebihan dan gangguan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Lama-kelamaan, obat juga bisa menjadi kurang efektif, sehingga opsi operasi mulai dipertimbangkan.

Salah satu metode operasi yang umum digunakan adalah dekompresi mikrovaskular (MVD). Operasi ini bertujuan memisahkan pembuluh darah yang menekan saraf trigeminal. Prosedurnya melibatkan sayatan kecil di belakang telinga dan penggunaan mikroskop untuk memisahkan pembuluh darah dari saraf dengan bahan isolasi seperti teflon. Operasi ini terbukti efektif, tetapi membutuhkan fasilitas canggih yang hanya tersedia di rumah sakit besar.

Operasi Trigeminal Neuralgia di RS PON Jakarta.

Di Indonesia, operasi dekompresi mikrovaskular hanya dapat dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas tingkat tinggi (RS grade A).

Salah satu kendala dalam program BPJS adalah keterbatasan anggaran. BPJS Kesehatan hanya mengklaim biaya sekitar Rp35 juta untuk operasi ini, sedangkan biaya sebenarnya empat kali lipat , terutama di rumah sakit swasta.

Akibatnya, pasien sering menghadapi kendala finansial atau harus menunggu antrean panjang di rumah sakit rujukan BPJS.

Selain MVD, lanjut dr Mustaqiem, ada metode lain yang lebih minim invasif seperti radiofrekuensi dan gamma knife. Prosedur ini melibatkan pemanasan saraf trigeminal dengan gelombang radio untuk merusak bagian saraf yang menyebabkan nyeri.

“Tingkat keberhasilannya 85 persen, sedangkan untuk operasi bisa 95 persen,” jelas dr Mustaqim.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi dan kesadaran publik akan Neuralgia Trigeminal ini guna mendapatkan penanganan yang lebih baik.

“Sepertiga pasien baru datang setelah bertahun-tahun menderita, ada yang lima tahun bahkan 25 tahun. Yang paling parah ada yang sampai bunuh diri,” ungkap dr Mustaqim.

Edukasi mengenai gejala khas penyakit ini, seperti nyeri yang dipicu aktivitas sederhana seperti makan atau menyikat gigi, sangat penting untuk mempercepat diagnosis dan perawatan.

Selain itu, komunitas pendukung pasien dan support group juga memainkan peran penting dalam membantu penderita menghadapi tantangan hidup sehari-hari.

Di beberapa negara, kelompok ini aktif memberikan dukungan psikologis dan informasi mengenai pengobatan terbaru.

Salah satu bentuk edukasi yang dilakukan dalam bentuk memperingati Trigeminal Neuralgia Awareness Day pada 7 Oktober.

“RS Pusat Otak Nasional mengadakan berbagai kegiatan edukasi untuk tenaga medis dan masyarakat umum. Diharapkan semakin banyak tenaga medis yang mampu mengenali dan menangani penyakit ini,” ujar dr Mustaqim lagi.

Tantangan pengobatan Neuralgia Trigeminal di Indonesia masih besar. Oleh karenanya, kolaborasi antara pemerintah, penyedia layanan kesehatan, dan peningkatan edukasi masyarakat sangat diperlukan.

Perbaikan kapasitas rumah sakit, peningkatan fasilitas BPJS, dan penyediaan lebih banyak opsi pengobatan bisa menjadi solusi untuk memberikan pengobatan yang lebih baik bagi para pasien. (NVR)

By Editor1