JAKARTA, AKURATNEWS.co – Pengangkatan Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Hercules Rosario Marshal sebagai Panglima Laskar Santri oleh Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3I) Periode 2024-2029. menuai pro dan kontra.
Salah satu yang kontra datang dari Imam Besar Masjid Al-Hikmah di New York, Ustadz Shamsi Ali yang mengatakan tidak sepantasnya sosok preman menjabat sebagai pemimpin atau panglima di ruang lingkup pesantren.
Namun, praktisi hukum, Muara Karta Simatupang SH, MH menyatakan bahwa publik seharusnya tidak menilai seseorang semata dari masa lalunya, terutama jika yang bersangkutan telah menunjukkan perubahan positif dan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya umat Islam.
Muara Karta menyebut Hercules, yang dikenal sebagai eks preman legendaris Jakarta, justru telah banyak berkontribusi secara sosial dan keagamaan.
“Kalau melihat dari kiprahnya hari ini, saya melihat Hercules bahkan lebih Islami dalam perbuatan dibanding banyak orang yang hanya pandai bicara. Dia rutin memberi santunan kepada kaum dhuafa, membantu pembangunan masjid, mendanai pesantren, dan menyejahterakan para santri,” ujar Muara di Jakarta, Kamis (8/5).
Menurut Muara, label “mantan penjahat” tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak seseorang yang ingin berubah dan mengabdi kepada masyarakat.
“Apakah karena seseorang pernah menjadi preman, dia tidak boleh menjadi orang baik? Bukankah setiap orang berhak bertobat dan berubah?” ucapnya.
Muara juga menjelaskan bahwa kerasnya kehidupan Jakarta bisa menjadi latar belakang mengapa seseorang pernah menempuh jalan kriminal di masa muda.
“Banyak orang di Jakarta harus bertahan hidup, dan tidak semuanya punya akses pendidikan atau pekerjaan yang layak. Tapi yang penting adalah bagaimana dia memilih jalan hidupnya sekarang,” jelasnya.

Terkait kritik bahwa Hercules tidak pernah menempuh pendidikan di pesantren, Muara mengatakan kontribusi nyata terhadap dunia pesantren harus lebih dihargai daripada latar belakang pendidikan.
“Hercules mungkin bukan santri secara formal, tapi lihat saja di Indramayu, kampung-kampung yang disokong dia kini hidup dengan aktivitas pesantren. Banyak santri yang dibiayai olehnya. Itu bukan hal kecil,” tegas Muara.
Muara menegaskan bahwa yang lebih berbahaya saat ini adalah para koruptor yang merusak sistem negara dari dalam.
“Preman bisa diurus polisi, tapi koruptor menghancurkan negara dari dalam dengan dasi dan jabatan. Itu yang seharusnya jadi perhatian publik,” imbuhnya.
Ia pun meminta masyarakat agar tidak terjebak dalam stigma masa lalu seseorang.
“Kalau memang hari ini dia membangun, memberi, dan mendukung pesantren serta umat, kenapa tidak kita dukung? Jangan biarkan masa lalu membungkam hak seseorang untuk berubah,” pungkasnya. (NVR)
