JAKARTA, AKURATNEWS.co – Upaya penyelamatan dan pengarsipan film nasional Indonesia terus diperkuat melalui kerja sama internasional.
Sinematek Indonesia (SI) bersama Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) resmi menjalin kolaborasi dengan Atase Kebudayaan Kedutaan Besar China di Indonesia dalam bidang pengarsipan film.
Kerja sama ini ditandai dengan kunjungan Atase Kebudayaan Kedutaan Besar China ke Sinematek Indonesia yang berlokasi di Gedung PPHUI, Setiabudi, Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Pertemuan tersebut merupakan kunjungan balasan sekaligus momentum penandatanganan kesepakatan kerja sama pengarsipan film antara kedua negara.
Ketua Yayasan PPHUI, Sonny Pudjisasono, menjelaskan bahwa kerja sama ini terjalin karena Indonesia dan Tiongkok memiliki kepedulian yang sama terhadap pelestarian arsip film nasional.
“Mereka juga memiliki program penyelamatan dan pengarsipan film produksi negaranya. Kunjungan ini menjadi bagian dari kesepakatan kerja sama di bidang tersebut,” ujarnya.
Dalam kerja sama ini, sejumlah film produksi China nantinya akan disimpan di ruang penyimpanan Sinematek Indonesia.
Sonny menegaskan bahwa fasilitas penyimpanan di Sinematek masih mencukupi untuk menampung arsip film dari China.
“Kami akan memfasilitasi penyimpanan film-film produksi China. Seluruh kebutuhan teknis dan pembiayaan penyimpanan, termasuk untuk tenaga kerja, akan ditanggung pihak China,” jelasnya.
Selain pengarsipan film, kedua pihak juga merencanakan penyelenggaraan festival film Indonesia–China yang akan digelar di Jakarta. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertukaran budaya dan apresiasi perfilman kedua negara.
Tak berhenti di situ, PPHUI dan Atase Kebudayaan China juga membuka peluang kerja sama produksi film lintas budaya.
Proyek film kolaborasi Indonesia–China dinilai dapat memperkaya perspektif budaya sekaligus memperluas jangkauan industri film kedua negara.
Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus PPHUI dan Sinematek Indonesia, di antaranya Jimmie, Rudi Sanyoto, Ira HD, serta perwakilan Program Studi Tiongkok Universitas Indonesia, yakni Dr. Rahadjeng Pulungsari, Nurni Wuryandari, Ph.D, dan Chika Asri, M.Hum.
Sementara dari pihak China hadir Wang Siping selaku Atase Kebudayaan Kedutaan Besar China di Indonesia, Chen Ying sebagai Sekretaris Jenderal Kamar Dagang Provinsi Jiangsu China untuk Indonesia, Xie Yi selaku Presiden Asosiasi Alumni Universitas Studi Asing Beijing di Indonesia, serta Belinda Xu Yunyu dari Kantor Kebudayaan Kedutaan Besar China di Indonesia.
Ke depan, kerja sama penyelamatan pengarsipan film tidak hanya dilakukan dengan China saja, PPHUI juga berencana menggelar pertemuan dengan Atase Kebudayaan Amerika Serikat dan Atase Kebudayaan Belanda pada April 2026 untuk menjajaki kolaborasi serupa.
Langkah ini menegaskan komitmen Sinematek Indonesia dan PPHUI dalam menjaga warisan perfilman nasional sekaligus memperkuat jejaring internasional di bidang pelestarian arsip film./Eds.
