TEHERAN, AKURATNEWS.co – Fajar belum benar-benar menyingsing di Teheran ketika kabar itu mengguncang Iran.

Pemimpin Tertinggi Republik Islam, Ali Khamenei, resmi dinyatakan tewas setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam wilayah Iran pada Sabtu (28/2) dini hari waktu setempat.

Kematian ulama yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade itu diumumkan media semi pemerintah Iran, Fars dan diperkuat siaran televisi pemerintah IRIB.

“Pemimpin Tertinggi Iran telah syahid,” demikian laporan IRIB yang kemudian dikutip sejumlah media internasional.

Pemerintah Iran langsung mendeklarasikan masa berkabung nasional selama 40 hari, disertai tujuh hari libur nasional.

Di berbagai kota, bendera diturunkan setengah tiang. Masjid-masjid dan pusat-pusat pemerintahan dipenuhi warga yang datang untuk berdoa dan menyampaikan duka.

Fars melaporkan bahwa Khamenei tewas di kantornya saat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya pada dini hari Sabtu.

Detail lain yang diungkap menyebutkan kompleks kediaman sekaligus kantornya digempur hingga 30 bom dalam operasi terkoordinasi antara Washington dan Tel Aviv.

Media Israel Channel 12, yang dikutip The Times of Israel menyebut serangan itu dilakukan setelah koordinasi intensif antara militer Israel dan Amerika Serikat.

Target utama adalah kompleks yang selama ini menjadi pusat komando dan simbol otoritas tertinggi Republik Islam.

Hingga kini belum ada verifikasi independen terkait jumlah pasti bom yang dijatuhkan maupun detail teknis operasi tersebut.

Namun konfirmasi kematian Khamenei dari berbagai pihak membuat kabar itu tak terbantahkan.

Presiden AS Donald Trump disebut telah mengonfirmasi kematian Khamenei, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengindikasikan kuat bahwa Pemimpin Tertinggi Iran tersebut tewas dalam serangan gabungan tersebut.

Menyikapi serangan ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan siap dan memastikan melancarkan pembalasan paling keras menyusul kematian Ali Khamenei.

Sikap IRGC tersebut menegaskan tekad Teheran untuk menghukum pihak-pihak yang mereka sebut sebagai pembunuh sang pemimpin.

Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita Fars, Minggu (1/3), Korps Garda Revolusi Islam Iran menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Khamenei.

Mereka sangat kehilangan seorang pemimpin besarnya, dan berduka atas kepergiannya.

IRGC menilai kematian Khamenei sebagai “kemartiran di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan,” yang disebut justru menegaskan legitimasi serta pengabdian sang pemimpin.

“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan bagi para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka,” kata IRGC.

Untuk diketahui, Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selama 37 tahun, ia memegang otoritas politik dan agama tertinggi di negara itu, mengendalikan arah kebijakan luar negeri, militer, dan jaringan kekuatan strategis Iran di kawasan Timur Tengah.

Di bawah kepemimpinannya, Iran memperluas pengaruh regionalnya, memperkuat program pertahanan dan nuklir, serta menghadapi sanksi internasional yang berlapis-lapis.

Ia juga menjadi simbol perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel, dua negara yang kerap ia sebut sebagai musuh utama Republik Islam.

Kematian Khamenei bukan hanya kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga mengguncang struktur politik Iran yang selama ini bertumpu pada figur sentral tersebut.

Di dalam negeri Iran, fokus kini tertuju pada proses suksesi. Sesuai konstitusi Iran, Dewan Ahli memiliki kewenangan untuk menunjuk Pemimpin Tertinggi yang baru.

Namun dalam situasi perang terbuka dan tekanan eksternal, proses tersebut diperkirakan tidak akan berjalan mulus.

Di tingkat regional dan global, tewasnya Khamenei berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa seluruh fasilitas dan aset Amerika Serikat serta Israel di Timur Tengah merupakan target sah jika terjadi agresi.

Dengan deklarasi berkabung 40 hari, Iran memasuki fase emosional sekaligus politis yang menentukan.

Di jalan-jalan Teheran, poster besar Khamenei mulai terpasang dengan narasi kepahlawanan dan kesyahidan.

Sementara itu, dunia menahan napas, menunggu langkah berikutnya dari Teherandan bagaimana Washington serta Tel Aviv merespons dinamika yang bisa mengubah peta geo politik Timur Tengah secara drastis. (NVR)

By editor2