OLEH : USTADZ TAUFAN HIDAYAT
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Kelurga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan madrasah pertama yang membentuk watak, emosi, dan arah hidup manusia. Banyak hal yang terjadi dalam rumah, diam-diam menjadi pola jiwa anak hingga dewasa.
Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan psikologi keluarga: kasih sayang, tanggung jawab, adab, dan keteladanan. Dari rumah yang sehat, lahir generasi yang kuat dan berakhlak.
Ketika kita memperhatikan dinamika keluarga, kita akan menemukan bahwa hubungan ayah, ibu, dan anak tidak selalu sama. Anak perempuan seringkali lebih dekat secara emosional kepada ayahnya.
Hal ini juga bukan sekadar fenomena sosial, tetapi dapat dijelaskan dalam pandangan fitrah. Ayah biasanya menjadi simbol perlindungan, ketegasan, dan rasa aman.
Dalam Islam, ayah adalah pemimpin keluarga, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ayah yang menghadirkan ketenangan akan menjadi tempat bersandar batin bagi anak perempuannya. Karena itu, Islam menekankan kelembutan dalam mendidik.
Allah SWT ﷻ berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Sedangkan anak laki-laki sering lebih terhubung dengan ibunya. Ibu adalah sumber kasih, pelukan, dan tempat kembali saat jiwa lelah. Hubungan ini dibangun sejak bayi, bahkan sebelum anak mengenal dunia. Islam meninggikan kedudukan ibu bukan tanpa alasan.
Rasulullah SAW ﷺ bersabda ketika ditanya siapa yang paling berhak diperlakukan baik:
أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أَبُوكَ
Artinya: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di sinilah terlihat bahwa psikologi keluarga sangat ditentukan oleh kedekatan emosional. Namun kedekatan ini tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan peran yang lain. Ayah harus tetap hadir untuk anak laki-laki, dan ibu harus tetap membimbing anak perempuan. Sebab rumah yang utuh adalah rumah yang saling menguatkan, bukan saling menggantikan.
Anak pertama sering memikul tanggungjawab lebih besar dibanding yang lain. Banyak anak sulung tumbuh menjadi “orang tua kecil” dalam rumahnya. Ia membantu menjaga adik, menahan emosi, bahkan memikul beban yang seharusnya dipikul orang dewasa. Islam mengajarkan keadilan dalam perlakuan terhadap anak.
Rasulullah SAW ﷺ bersabda:
اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keadilan bukan berarti semua harus sama persis, tetapi tidak boleh ada anak yang dipaksa memikul beban tanpa penghargaan. Anak sulung perlu dihormati, dipuji dengan cara yang benar dan diberi ruang untuk tetap menjadi anak-anak. Jika tidak, ia tumbuh dengan luka sunyi yang tidak terlihat.
Ada pula pelajaran penting bahwa anak laki-laki yang menghormati ibunya biasanya akan menghormati perempuan lain. Ini adalah hukum akhlak yang nyata. Orang yang terbiasa merendahkan ibunya, sering membawa sikap itu ke dunia luar: kepada istri, saudari, bahkan masyarakat. Islam sangat tegas dalam urusan birrul walidain.
Allah SWT ﷻ berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).
Maka, adab kepada ibu bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang menentukan kualitas hati. Bila anak laki-laki dibesarkan dengan penghormatan kepada ibu, ia akan membawa kesantunan itu kepada perempuan lain. Inilah salah satu cara Islam membangun masyarakat yang beradab dari dalam rumah.
Menariknya, saudara yang paling sering bertengkar saat kecil justru sering menjadi paling dekat saat dewasa. Pertengkaran kecil sering muncul karena kedekatan ruang dan waktu. Mereka saling menguji batas, saling berebut perhatian, tetapi sebenarnya sedang membangun ikatan yang kuat. Dalam Islam, persaudaraan adalah nikmat besar yang harus dijaga.
Allah SWT ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Orangtua perlu memahami bahwa pertengkaran saudara bukan selalu pertanda kebencian, tetapi bisa menjadi proses pendewasaan. Namun tetap, orangtua harus hadir sebagai penengah agar konflik tidak berubah menjadi luka permanen.
Banyak orang tanpa sadar meniru kebiasaan orang tuanya. Cara bicara, cara marah, cara mengelola uang, bahkan cara memperlakukan pasangan, semuanya direkam oleh anak sejak kecil. Anak belajar bukan dari nasihat panjang, melainkan dari apa yang ia lihat setiap hari. Islam menekankan keteladanan.
Allah SWT ﷻ berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Jika Rasulullah SAW ﷺ menjadi teladan umat, maka ayah dan ibu adalah teladan pertama anak-anaknya. Orangtua yang ingin anaknya jujur, harus menampilkan kejujuran. Orangtua yang ingin anaknya lembut, harus menahan amarah. Sebab rumah adalah sekolah karakter yang paling keras, karena pelajarannya terjadi setiap hari.
Anak yang tumbuh dengan melihat pertengkaran sering menjadi penengah dalam hidupnya. Ia terbiasa membaca emosi, memahami situasi, dan menenangkan pihak yang bertikai. Namun sering kali, anak seperti ini tumbuh dengan kecemasan tersembunyi. Ia belajar bahwa kedamaian harus “dibayar” dengan mengalah. Islam mengajarkan agar rumah tidak dipenuhi teriakan, tetapi dipenuhi musyawarah.
Allah SWT ﷻ berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya: “Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisa: 19).
Ayat ini bukan hanya untuk suami, tetapi pesan untuk seluruh keluarga: jadikan rumah sebagai tempat aman. Sebab pertengkaran yang dibiarkan menjadi racun yang diwariskan. Anak-anak mungkin tidak berkata apa-apa, tetapi jiwanya menyimpan semuanya.
Ada pula fenomena bahwa semakin banyak orang tua berkorban tanpa banyak bicara, semakin anak menghargainya secara tidak sadar. Pengorbanan yang sunyi sering membekas lebih dalam daripada pengorbanan yang diumumkan. Namun Islam mengingatkan bahwa amal yang paling mulia adalah amal yang ikhlas.
Rasulullah SAW ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orangtua yang ikhlas bekerja, mengalah, dan menahan lelah demi keluarga, sebenarnya sedang membangun “bank cinta” di hati anak. Mungkin anak belum paham ketika kecil, tetapi saat dewasa ia akan mengingat betapa ayahnya pulang dengan peluh, betapa ibunya menahan lapar agar anak kenyang. Pengorbanan seperti itu akan menjadi doa yang hidup.
Dan, yang paling indah adalah: anak yang dibesarkan dengan penuh kasih akan tumbuh menjadi orang yang mudah memberi kasih juga. Kasih sayang adalah warisan jiwa. Anak yang sering dipeluk, sering didoakan, sering didengarkan, akan tumbuh menjadi pribadi yang menenangkan. Islam sendiri adalah agama rahmah.
Allah SWT ﷻ berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Kasih sayang dalam rumah adalah cermin rahmat Allah SWT di bumi. Bahkan Rasulullah SAW ﷺ menegaskan bahwa orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.
Beliau ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka keluarga bukan hanya tempat berbagi darah, tetapi tempat menanam rahmat. Rumah yang penuh doa akan melahirkan anak yang kuat. Rumah yang penuh adab akan melahirkan generasi yang santun. Rumah yang penuh keteladanan akan melahirkan anak yang tidak mudah rusak oleh zaman.
Ditengah dunia yang makin sibuk, banyak orang lupa bahwa keluarga adalah amanah besar.
Allah SWT ﷻ mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini bukan ancaman semata, melainkan panggilan cinta: jagalah keluargamu dengan iman, dengan ilmu, dengan sabar, dan dengan kasih sayang. Karena rumah yang baik bukan rumah tanpa masalah, melainkan rumah yang mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang diridhai Allah SWT.
Jika kita ingin memahami psikologi keluarga dalam cahaya iman, maka kuncinya adalah menata hati. Orangtua harus memperbaiki dirinya sebelum memperbaiki anaknya. Suami istri harus menjaga lisannya sebelum menuntut anaknya beradab.
Karena, anak tidak hanya mendengar, ia menyerap. Anak tidak hanya melihat, ia meniru. Dan pada akhirnya, keluarga yang sehat bukan keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang selalu kembali kepada Allah SWT saat lelah, kembali kepada Al-Qur’an saat bingung, dan kembali kepada sunnah Rasulullah SAW ﷺ saat kehilangan arah. (***/goes)
(PENULIS: USTADZ TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan Sosial Kemasyarakatan)
