JAKARTA, AKURATNEWS.co – Sekilas, judul film dokumenter yang tengah heboh ini membuat orang berpikir sejenak.
Saat pertama kali mendengar kalimat ‘Pesta Babi’, sebagian publik mungkin akan mengernyitkan dahi. Lalu sebagian lainnya akan terpanggil ingatannya tentang ritual adat di Papua yang menjadikan babi sebagai simbol kehidupan sosial.
Tapi saat film ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ diputar, yang muncul bukan adegan horor fiksi. Yang muncul adalah hutan yang menipis, suara warga adat yang cemas, dan pertanyaan besar: kalau ada yang merasa takut akan imbas film ini, sebenarnya ketakutan alias horor itu untuk siapa?
Film yang disutradarai Dhandy Laksono ini sendiri membawa penonton masuk ke kampung-kampung di Papua Selatan. Di sana, hutan bukan sekadar pohon. Ia adalah sumber pangan, obat, identitas, dan ruang hidup yang diwariskan turun-temurun.
Dokumenter ini merekam perubahan yang terjadi sejak pembukaan lahan besar dimulai tahun 2022. Tanah adat berubah fungsi. Sumber makanan tradisional mulai sulit ditemukan. Ruang hidup warga menyempit. Narasinya tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat penonton merasa rasa campur aduk. Ada sedih, marah, prihatin.
“Horornya bukan soal hantu. Horornya adalah ketika kamu tahu tanah tempat leluhurmu dimakamkan bisa jadi tidak bisa kamu injak lagi,” kata seorang penonton di diskusi pasca nobar film ini di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bahkan musisi Rayen Pono sampai habis kata-kata untuk mewakili perasaannya usai menonton film ini.
“(Yang terbesar) Rasa bersalah, gue sebagai warga masyarakat di Jawa di kota besar gitu yang yang secara tidak langsung menjadi market, daripada apa yang sedang dibangun di sana,” kata Rayen yang juga personil Pasto ini usai menggelar nobar film ini, Jumat, (15/5).
Judul Pesta Babi ini menjadi viral memang bukan hanya karena isinya, tapi juga karena apa yang terjadi di luar layar.
Sejak Mei 2026, beberapa kegiatan nobar di kampus dibubarkan. Di Universitas Mataram, acara dihentikan otoritas kampus. Di Ternate, aparat TNI AD menghentikan pemutaran dengan alasan perizinan dan potensi isu SARA.
Pembubaran ini justru membuat film yang tadinya hanya dikenal di lingkaran aktivis dan mahasiswa, meluas ke publik nasional. Judul yang kontroversial, narasi tentang kolonialisme modern, dan pembahasan peran aparat keamanan membuat film ini dianggap sensitif.
Menko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra sendiri seolah tak memandang film ini horor buat pemerintah. Lewat pernyataan tertulisnya, pemerintah tidak melarang nobar dan diskusi film tersebut.
“Kritik semacam itu wajar saja, walaupun memang terdapat narasi yang provokatif. Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat,” kata Yusril dalam keterangan tertulisnya pada 14 Mei 2026.
Bagi Yusril, film ini bisa jadi bahan evaluasi pemerintah terhadap pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan. Ia menegaskan PSN dibangun untuk kesejahteraan rakyat, tapi pemerintah tidak menutup mata pada kekurangan di lapangan.
Sementara itu, aktivis dan pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago melihat pembubaran nobar sebagai reaksi berlebihan.
“Sebenarnya nggak perlu ada pembubaran. Mending Presiden Prabowo memberikan program yang pro rakyat. Kalau layanan dasar terpenuhi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Pangi, baru-baru ini.
Baginya, stabilitas pemerintahan tidak akan goyah hanya karena sebuah film, selama pemerintah benar-benar berpihak pada rakyat kecil.
Pesta Babi sendiri bukan film horor dalam arti konvensional. Tidak ada jump scare, tidak ada hantu. Namun belakangan seolah menjadi ketakutan yang nyata dan sedang terjadi: kehilangan tanah, kehilangan suara, kehilangan ruang untuk bicara.
Dan pertanyaan film ini horor buat siapa menjadi relevan karena jawabannya tergantung dari sisi mana Anda melihatnya.
Bagi masyarakat adat Papua Selatan, horornya adalah perubahan yang datang terlalu cepat dan terlalu besar tapi tak adil buat mereka. Bagi pemerintah dan aparat, horornya mungkin adalah narasi yang ada dalam film ini dianggap bisa mengguncang stabilitas.
Dan film yang pemutarannya masih terbatas pada komunitas, kampus dan ruang-ruang diskusi kecil tapi efeknya sudah terasa jauh lebih besar dari layar lebar ini memang tidak memberi jawaban tunggal. Ia hanya membuka ruang untuk bertanya dan berdebat.
Lalu, jika Anda duduk di kursi penonton, kira-kira rasa takut apa yang paling terasa setelah film selesai? (NVR)
