BANDUNG, AKURATNEWS.co – Seiring perjalanan waktu, udara kota Bandung ternyata sudah tak sebagus dulu kualitasnya. Terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap kualitas udara di Bandung berada dalam kondisi mengkhawatirkan alias buruk.

Berdasarkan hasil pemantauan selama 1 tahun, kadar partikel halus PM 2.5 tercatat lebih dari dua kali lipat ambang batas aman tahunan.

Pemantauan dilakukan di kawasan Tamansari, Bandung, pada periode Juni 2022 hingga Mei 2023. Hasilnya, rata-rata konsentrasi PM 2.5 mencapai 31,51 mikrogram per meter kubik berdasarkan alat referensi standar dan 39,04 mikrogram per meter kubik dari sensor pendamping.

Padahal, ambang batas aman tahunan yang ditetapkan pemerintah Indonesia hanya 15 mikrogram per meter kubik.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir (PRTABN) BRIN Feni Fernita Nurhaini mengatakan PM 2.5 merupakan partikel sangat kecil yang dapat masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah.

“Paparan polusi PM 2.5 dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, hingga kematian dini,” ujar Feni dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2026).

Menurut dia, pemantauan kualitas udara di wilayah perkotaan perlu dilakukan secara serius, terutama di daerah dengan aktivitas masyarakat yang tinggi.

Dalam penelitian tersebut, BRIN menggunakan dua alat pemantau sekaligus, yakni sensor PurpleAir (PA-II) dan Super Speciation Air Sampling System (SuperSASS) sebagai alat referensi berbasis filter standar tinggi.

Hasil riset juga menunjukkan polusi udara di Bandung meningkat pada dua waktu tertentu, yakni pukul 06.00–08.00 WIB dan 18.00–23.00 WIB. Peningkatan ini dipicu tingginya aktivitas kendaraan saat jam berangkat dan pulang kerja.

“Pada pagi dan malam hari, emisi kendaraan cukup tinggi. Selain itu, kondisi udara yang lebih stabil membuat polutan lebih mudah tertahan di sekitar permukaan,” kata Feni.

Selain pola harian, BRIN juga menemukan konsentrasi PM2.5 tertinggi terjadi saat musim kemarau, terutama pada Juli dan Agustus 2022. Sebaliknya, kualitas udara membaik saat musim hujan pada Januari dan Februari 2023.

BRIN merekomendasikan sejumlah langkah untuk menekan polusi udara, seperti mendorong penggunaan transportasi umum, menghentikan pembakaran sampah terbuka, memperluas ruang hijau, serta menambah titik pemantauan kualitas udara.

“Jika tidak ditangani sejak dini, polusi udara berisiko terus meningkat seiring pertumbuhan kendaraan, populasi penduduk, dan aktivitas perkotaan,” tegas Feni./Teg.Foto: Istimewa.

By Editor1