JAKARTA, AKURATNEWS.co – Film horor ‘Pemikat Jiwa’ menghadirkan
ketakutan yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: bagaimana jika ada seseorang yang tidak mampu menerima penolakan, lalu memilih jalan gaib untuk memaksa
cinta?
Mengangkat tema pelet, ‘Pemikat Jiwa’ tidak hanya menjadikan praktik mistis sebagai elemen horor.
Film arahan Dom Dharmo ini membawa penonton masuk ke dalam cerita
tentang obsesi, manipulasi, dan rasa ingin memiliki yang berubah menjadi teror.
Dalam film ini, Jay yang diperankan Fajar Nugra digambarkan sebagai sosok laki-laki yang menaruh hati kepada Wulan, diperankan Givina. Namun ketika perasaannya tak mendapatkan balasan, Jay justru memilih jalan gelap. Dari situ, cinta yang seharusnya menerima berubah menjadi paksaan yang membuka pintu bagi teror yang lebih besar.
Bagi banyak orang Indonesia, cerita tentang pelet bukan hal yang benar-benar asing. Di berbagai lingkungan, kisah tentang orang yang memakai cara gaib demi mendapatkan cinta
masih sering terdengar, entah sebagai cerita keluarga, obrolan tetangga, sampai kisah yang beredar dari mulut ke mulut.
‘Pemikat Jiwa’ membawa ketakutan itu ke layar lebar dengan konflik yang lebih personal: bagaimana jika yang menjadi korban adalah diri sendiri, orang
terdekat, atau keluarga?
“Yang bikin serem bukan cuma peletnya, tapi karena masih ada orang yang percaya cinta bisa dipaksa,” menjadi salah satu kesan yang muncul setelah penayangan awal.
Lewat karakter Jay, film ini memperlihatkan bagaimana penolakan yang tidak diterima dengan sehat dapat berubah menjadi obsesi berbahaya. Ia tidak lagi melihat cinta sebagai
pilihan dua orang, tetapi sebagai sesuatu yang ingin dikuasai.
Di titik inilah ‘Pemikat Jiwa’ menampilkan sisi paling mengganggu dari pelet: bukan hanya unsur gaibnya, tetapi niat manusia di baliknya.
Sementara itu, Wulan menjadi pusat dari dampak rasa yang dipaksakan. Karakter ini memperlihatkan bagaimana hidup seseorang dapat berubah ketika tubuh, hati, dan kendali atas dirinya mulai terganggu oleh sesuatu yang tidak ia pilih.
Transformasi Wulan dari sosok
yang lembut hingga kehilangan kendali menjadi salah satu kekuatan cerita yang membuat teror film terasa semakin intens.
Kehadiran Sasi Geni, yang diperankan oleh Yuni Yasmin, turut memperkuat lapisan horor dalam film. Sosok ini menjadi pengingat bahwa ketika manusia membuka jalan gelap, yang
datang belum tentu hanya rasa cinta. Ada akibat yang lebih besar, lebih menyeramkan, dan tidak mudah dihentikan.
‘Pemikat Jiwa’ juga tidak hanya bertumpu pada jump scare. Ketegangan dibangun melalui atmosfer, konflik, perkembangan karakter, serta rasa tidak nyaman yang terus meningkat
sampai akhir.
Film ini menempatkan pelet bukan sekadar sebagai mitos horor, tetapi sebagai simbol dari cinta yang dipaksakan dan batas orang lain yang dilanggar.
Dengan tema yang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia, ‘Pemikat Jiwa’ hadir sebagai horor lokal yang tidak hanya menakuti lewat dunia gaib, tetapi juga lewat pertanyaan yang lebih personal: bagaimana jika seseorang percaya bahwa cintanya berhak
dipaksakan kepada orang lain?
‘Pemikat Jiwa’ diproduseri Shanker R.S dan Rama Tribudiman sebagai Executive
Producer. Film ini diproduksi Makara Production yang berkolaborasi dengan NUSA Indonesia Bercerita, Jupiter, Salembe, AZ Film dan SHOW Token.
Film ini juga menghadirkan Nuugro Agung sebagai penulis sekaligus penggagas ide cerita dan bakal tayang mulai 9 Juli 2026 di bioskop seluruh Indonesia. (NVR)
