YOGYAKARTA, AKURATNEWS.co – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Niki Alma Febriana Fauzi, mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang baik karena kualitas keberagamaan seseorang sangat dipengaruhi oleh orang-orang terdekat di sekitarnya.
Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (10/06).
Menurutnya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Setiap orang akan menjalin hubungan, persahabatan, dan membentuk lingkungan pergaulan. Karena itulah Islam memberikan perhatian besar terhadap siapa yang dijadikan teman dekat.
Niki mengutip hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Al-mar’u ‘alā dīni khalīlihi fal yanzhur aḥadukum man yukhālil.” Artinya, “Seseorang mengikuti agama sahabat dekatnya. Karena itu hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat.”
Ia menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan persoalan memilih teman bukan perkara sepele, melainkan bagian penting dari tuntunan Islam. Lingkungan pergaulan menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah seseorang akan semakin baik atau justru semakin jauh dari nilai-nilai agama.
“Rasulullah memberikan tuntunan agar kita benar-benar memperhatikan siapa yang berada di sekitar kita, karena salah satu yang paling memengaruhi kualitas seseorang adalah lingkungannya,” ujarnya.
Dalam khutbahnya, Niki menjelaskan bahwa manusia secara alamiah cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki minat, visi, atau ketertarikan yang sama. Orang yang gemar bersepeda akan mencari komunitas pesepeda. Mereka yang menyukai penelitian akan berkumpul dengan sesama peneliti. Demikian pula mahasiswa yang gemar belajar akan mencari teman belajar, sedangkan mereka yang gemar menghabiskan waktu untuk hal-hal kurang bermanfaat juga akan membentuk kelompoknya sendiri.
Fenomena tersebut, menurutnya, telah dijelaskan Rasulullah saw. dalam hadis lain, “Al-arwāḥu junūdun mujannadah, famā ta’ārafa minhā i’talafa wa mā tanākara minhā ikhtalafa.” Artinya, “Ruh-ruh manusia itu laksana pasukan yang dihimpun. Yang saling mengenal akan saling menyatu, sedangkan yang saling bertolak belakang akan berpisah.”
Ia menerangkan bahwa manusia akan semakin kuat kebersamaannya ketika memiliki visi dan tujuan yang sama. Sebaliknya, ketika kepentingan dan orientasi sudah berbeda, hubungan tersebut akan dengan sendirinya merenggang. Kondisi itu, menurutnya, dapat diamati dalam berbagai fenomena sosial, termasuk dinamika koalisi dalam kehidupan politik.
Karena itu, Niki menegaskan bahwa umat Islam harus secara sadar memilih lingkungan yang mampu menguatkan iman dan mendorong kepada kebaikan.
Ia kemudian mengutip pesan Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam, “Lā taṣḥab man lā yunhiḍuka ḥāluhu wa lā yadulluka ‘alallāhi maqāluhu.” Artinya, “Janganlah bersahabat dengan orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangatmu untuk taat kepada Allah dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.”
Menurutnya, sahabat yang baik adalah mereka yang menghadirkan motivasi untuk semakin dekat kepada Allah, bukan justru mengajak kepada kemaksiatan dan perilaku negatif. Apabila sebuah lingkungan justru mendorong seseorang melakukan keburukan, maka lingkungan tersebut patut ditinggalkan karena berpotensi menyeret seseorang kepada kehidupan yang tidak diridai Allah.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Niki mengangkat kisah Abu Thalib, paman Nabi Muhammad saw. Abu Thalib dikenal sebagai sosok yang memberikan perlindungan luar biasa terhadap dakwah Rasulullah. Namun, pada akhir hayatnya ia tidak mengucapkan dua kalimat syahadat.
Niki menjelaskan bahwa Rasulullah sangat berharap pamannya memperoleh hidayah. Namun Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, “Innaka lā tahdī man aḥbabta walākinna Allāha yahdī man yasyā’.” Artinya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Meski hidayah sepenuhnya merupakan hak Allah, menurut Niki terdapat pelajaran besar dari peristiwa tersebut. Salah satunya adalah kuatnya pengaruh lingkungan terhadap pilihan hidup seseorang. Ketika Rasulullah mengajak Abu Thalib mengucapkan syahadat, orang-orang di sekitarnya justru mengingatkan agar tetap mempertahankan keyakinan nenek moyangnya. Tekanan sosial dan rasa gengsi akhirnya menjadi salah satu faktor yang menghalangi Abu Thalib menerima Islam.
“Peristiwa itu menunjukkan betapa besar pengaruh sahabat dan circle terhadap kehidupan beragama seseorang,” katanya.
Menutup khutbahnya, Niki mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan hadis Rasulullah dan kisah Abu Thalib sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengimbau agar setiap Muslim memilih lingkungan yang mampu memberikan motivasi untuk melakukan berbagai amal saleh, baik yang berkaitan dengan kehidupan akhirat maupun urusan dunia yang membawa kemaslahatan.
“Marilah kita memilih lingkungan dan circle yang baik, yang mendorong kita untuk melakukan hal-hal positif, baik dalam urusan ukhrawi maupun duniawi,” pungkasnya./Ib. Sumber: Muhammadiyah.
