JAKARTA, AKURATNEWS.co – Penampilan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam pementasan teater lenong Lela Oh Lela pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni Budaya (LSB) PP Muhammadiyah menuai apresiasi dari berbagai kalangan.

Pementasan yang dibawakan bersama Teater LSB Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (10/7), dinilai menjadi penanda semakin kuatnya komitmen Muhammadiyah dalam menempatkan seni budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah berkemajuan.

Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib, menegaskan bahwa seni memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mengasah kepekaan rasa, serta menghadirkan kelembutan budi dalam kehidupan manusia. Karena itu, menurutnya, dakwah Muhammadiyah perlu terus memanfaatkan seni budaya sebagai salah satu instrumen untuk menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat.

“Salah satu hal yang membuat anak-anak kita itu keras hatinya, ya karena tidak tersentuh oleh seni. Saya kira penting untuk memasukkan seni dan budaya ke dalam salah satu instrumen dakwah persyarikatan,” ujar Irwan.

Sementara itu, Sekretaris LSB PP Muhammadiyah, Faris Al Fadhat, mengaku terkesan dengan penampilan Abdul Mu’ti yang untuk pertama kalinya memainkan teater lenong secara penuh dari awal hingga akhir pertunjukan.

“Sangat mengejutkan. Pak Menteri Mu’ti pertama kali main lenong penuh dari awal sampai akhir. Bahkan mungkin bisa disebut ini menteri pertama yang berakting di panggung teater lenong,” ungkap Faris.

Menurutnya, meskipun hanya menjalani waktu persiapan yang relatif singkat, Abdul Mu’ti mampu menampilkan akting yang natural dan menyatu dengan para pemain lainnya.

“Beliau sangat natural dan bisa mengikuti meskipun dengan latihan yang sebentar. Hanya di-briefing, tetapi alhamdulillah dapat tampil secara natural,” tambahnya.

Lebih jauh, Faris menilai keikutsertaan Abdul Mu’ti dalam pementasan tersebut menjadi simbol kuat bahwa Muhammadiyah semakin meneguhkan seni budaya sebagai bagian integral dari dakwah berkemajuan. Melalui Rakernas LSB PP Muhammadiyah, ia berharap lahir berbagai rumusan strategis yang dapat menjadi pijakan pengembangan seni budaya Muhammadiyah menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Medan pada 2027.

“Mudah-mudahan Rakernas ini berjalan dengan baik dan menghasilkan rumusan-rumusan serta langkah-langkah strategis yang kemudian dijadikan rekomendasi di satu tahun terakhir menjelang Muktamar, sekaligus menjadi acuan pengembangan LSB ke depan,” katanya.

Apresiasi serupa disampaikan Wakil Ketua III LSB PP Muhammadiyah, Sarjilah. Menurutnya, keterlibatan langsung pimpinan PP Muhammadiyah, khususnya Abdul Mu’ti yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, memberikan pesan yang sangat kuat kepada LSB di seluruh Indonesia bahwa Muhammadiyah tidak pernah memusuhi seni dan budaya.

“Agenda ini membuktikan bahwa Muhammadiyah itu tidak anti seni budaya. Ternyata dengan penampilan dari PP Muhammadiyah beserta Pak Menteri itu membawa dampak kepada wilayah. Dengan begitu, LSB wilayah merasa, ‘Oh, ini ada contohnya.’ Jadi ini bisa menular seperti sebuah virus kebaikan. Bagaimana Rakernas menjadi ajang mendinamisasi LSB di seluruh wilayah,” pungkas Sarjilah.

Penampilan Abdul Mu’ti di panggung lenong pun menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian dalam rangkaian pembukaan Rakernas LSB PP Muhammadiyah. Tidak hanya menghadirkan hiburan yang sarat pesan moral, pementasan tersebut juga memperlihatkan bahwa seni budaya dapat menjadi media dakwah yang komunikatif, membumi, dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Hingga saat ini, Sabtu, (11/7) LSB PP Muhammadiyah sedang menjalankan rangkaian sidang Rakernas LSB PP Muhammadiyah untuk membahas berbagai isu strategis di sektor kesenian dan kebudayaan. Melalui Rakernas, LSB PP Muhammadiyah berharap semangat mengembangkan ekosisten seni dan budaya semakin tumbuh di seluruh tingkatan persyarikatan. Dengan demikian, seni budaya bukan hanya sekadar ruang ekspresi, namun juga menjadi instrumen strategis penguatan dakwah persyarikatan yang mencerahkan dan membumi hingga berbagai elemen kemasyarakatan. (Bhisma)

By Editor1