Partai AfD yang Memiliki Kedekatan dengan Rusia Menangi Pemilu Jerman
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Partai Alternative für Deutschland (AfD) baru saja mencetak kemenangan besar dalam pemilu Negara Bagian Sachsen-Anhalt, Jerman, Minggu (6/9/2026).
Kemenangan Parta sayap kanan tersebut turut mengangkat nama Ulrich Siegmund, politikus berusia 35 tahun yang menjadi kandidat utama AfD dalam pemilu.
Partai sayap kanan itu berhasil meraih 43,8% suara, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan perolehan 20,8% pada pemilu 2021. AfD mendapatkan 39 dari total 83 kursi parlemen Sachsen-Anhalt.
Sementara itu, Christian Democratic Union (CDU) yang sebelumnya mendominasi pemerintahan Sachsen-Anhalt hanya memperoleh 17,2% suara dan 15 kursi. Partai Sosial Demokrat (SPD), Partai Hijau, dan Die Linke masing-masing mengamankan delapan kursi, sedangkan Bündnis Sahra Wagenknecht (BSW) memperoleh lima kursi.
Meski menang cukup jauh, AfD belum bisa dipastikan memimpin pemerintahan. AfD masih kekurangan tiga kursi untuk bisa mencapai mayoritas mutlak sebanyak 42 kursi.
AfD juga kesulitan mencari mitra karena sebagian besar partai di Jerman mempertahankan penolakan untuk membentuk koalisi maupun bekerja sama dengan AfD.
Meski demikian, kemenangan tersebut bukan kali pertama AfD menjadi partai terbesar dalam pemilu negara bagian. Pada 2024 silam, AfD sempat memenangi pemilu Thuringia dengan 32,8% suara, tetapi gagal membentuk pemerintahan karena tidak mempunyai mayoritas dan mitra koalisi.
Namun, sejauh ini hasil di Sachsen-Anhalt menjadi pencapaian terbaik AfD sepanjang sejarah. Partai tersebut kini semakin dekat untuk memegang kekuasaan di tingkat negara bagian.
Lalu, sebenarnya apa itu AfD?
AfD merupakan partai alternatif Jerman yang didirikan pada 2013 oleh sejumlah ekonom, akademisi, pengusaha, dan mantan politikus konservatif. Partai ini memiliki kedekatan dengan Rusia.
Pada awal berdirinya partai sayap kanan ini, lebih dikenal sebagai partai yang menolak akan penyelamatan negara-negara Eropa yang tengah mengalami krisis utang. AfD juga menentang penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal yang dianggap membebani pembayar pajak Jerman.
Namun, seiring waktu berjalan, orientasi AfD pun mulai berubah. Kini, isu imigrasi, islam, identitas nasional, keamanan, dan kedaulatan Jerman menjadi lebih dominan dalam agenda partai sayap kanan itu, apalagi sejak terjadinya krisis pengungsi Eropa yang terjadi pada 2015.
AfD saat ini dipimpin bersama oleh Alice Weidel dan Tino Chrupalla. Keduanya juga menjadi pemimpin bersama fraksi AfD di Bundestag (parlemen Jerman).
Alice Weidel memiliki latar belakang ekonomi dan bisnis. Ia lebih sering tampil membawa agenda pemangkasan pajak, deregulasi, penolakan terhadap kebijakan hijau, dan reformasi Uni Eropa.
Weidel menjadi kandidat kanselir AfD dalam pemilu federal 2025. Penampilan yang lebih tenang dan profesional membuatnya sering diposisikan sebagai wajah AfD yang ditujukan kepada kalangan bisnis, kelas menengah, dan pemilih konservatif.
Sementara itu, Tino Chrupalla berasal dari Jerman timur dan mempunyai latar belakang sebagai pengusaha kerajinan. Gaya komunikasinya lebih sederhana dan ditujukan kepada pekerja, pengusaha kecil, serta masyarakat di kota-kota kecil dan pedesaan.
Chrupalla juga dikenal lebih terbuka terhadap pemulihan hubungan dengan Rusia. Ia melihat energi murah dari Rusia sebagai bagian penting dari kepentingan ekonomi Jerman.
Weidel dan Chrupalla mewakili dua kecenderungan kebijakan luar negeri di dalam AfD. Kelompok di sekitar Weidel lebih terbuka terhadap hubungan dengan Amerika Serikat di bawah Donald Trump, sedangkan Chrupalla dan sejumlah tokoh Jerman timur cenderung mendorong hubungan lebih dekat dengan Moskow
.
Landasan ideologi AfD dituangkan dalam dokumen Programm für Deutschland yang dilansir dari situs resmi partai. Program dasar tersebut terdiri dari 14 bidang, mulai dari demokrasi, ekonomi, kebijakan luar negeri, imigrasi, hingga energi./Ib. Foto: Dok: Foto/X/@BRICSinfo.