JAKARTA, AKURATNEWS – Belakangan ini kasus perdagangan manusia semakin menjadi-jadi. Celakanya, tak semua orang mengetahui dan peduli dengan kasus ini.

Untuk itulah, Komunitas Women Gospel dan Rumah Hati Suci menggelar seminar ‘Justice and Mercy’ di Jakarta, Jumat (22/9).

Seminar ini merupakan upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu perdagangan manusia yang masih marak di Indonesia.

Mengangkat tema ‘Uniting to Eradicate Human Trafficking’, seminar ini dibuka Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati dan Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo dengan dimoderatori Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Romo Simon Lili Tjahjadi.

Ada tiga narasumber, yaitu Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Keuskupan Pangkalpinang, Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus; Koordinator Talitha Kum Indonesia Jaringan Jakarta, Suster Irena Handayani, OSU; dan Direktur Eksekutif Yayasan Integritas Justitia Madani Indonesia, Mia Marina yang menjadi pembicara.

Tampak di antara para hadirin antara lain Ketua Umum Aliansi Bersatu Anti SARA (ABAS) Boyke Djohan, Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA) Maria Anik Wusari, dan Komisaris Perusahaan BUMN, Pendiri sastramedia.com dan Dosen UI Riri Satria.

“Kita dipanggil untuk menghormati dan melindungi martabat setiap orang,” ujar Imelda T. Joseph, koordinator penyelenggara.

“Seminar ini merupakan salah satu elemen dari rangkaian kegiatan seputar isu perdagangan manusia,” sambung Imelda.

Selain seminar, ada opera berjudul ‘Musuh Si Mucikari’ yang digarap Ananda Sukarlan, komponis dan pianis terkemuka. Teks dari lagu tersebut, dan seluruh operanya yang sangat puitis ditulis penyair Emi Suy.

Di seminar ini Ananda menampilkan cuplikan dari opera yang menceritakan ratapan yang sangat memilukan dari seorang anak korban perdagangan manusia di dalam sebuah kapal yang berlabuh menuju Batavia. Ananda mengiringi suara soprano Ratnaganadi Paramita yang juga salah satu pemeran ‘Musuh Si Mucikari’.

Ratna menyanyikannya dengan penuh kedalaman dalam penjiwaannya dan membuat terharu seluruh penonton Soehanna Hall yang memenuhi kapasitas 400 orang tersebut.

“ABAS kan Anti SARA jadi saya kira sesuai banget dengan seminar ini tentang anti perdagangan manusia,“ kata Ananda Sukarlan yang juga Kepala Bagian Kebudayaan ABAS.

Lebih lanjut, sebagai seniman Ananda menyampaikannya lewat karya seni, yaitu opera.,

“Karena buat saya, opera itu jauh lebih mengena di dalam hati kita. Kalau kita belajar sejarah, mungkin kita akan segera lupa tentang sejarah itu, “ terangnya.

Menurutnya, kalau melihatnya melalui karya seni, karya seni itu menyentuh kita dan kita akan susah lupanya.

“Karena kita turut merasakan penderitaan korban perdagangan manusia tersebut, “ ungkapnya iba.

Ananda menyampaikan tentang kepahlawanan dari Auw Tjoei Lan, bagaimana dia menyelamatkan ratusan anak yang sebenarnya tak gampang.

“Sebenarnya ini suatu sejarah yang terlupakan, karena tokoh Auw Tjoei Lan, itu sudah tidak ada di buku sejarah. Padahal dia jasanya besar sekali, “ Ananda menyayangkan.

“Ceritanya dia sebagai anak yang sedang dibawa lewat kapal ke Batavia untuk kemudian dijual, tidak tahu jualnya seperti apa, “ bebernya.

Dengan opera, Ananda berharap para penonton bisa tersentuh nuraninya dan merasakan fenomena perdagangan manusia ini secara emosional,

“Karena ini yang akan lebih penting untuk menggerakkan kita semua untuk berbuat sesuatu melawannya daripada hanya mengerti soal fakta dan data,” pungkas Ananda yang Minggu depan ke Sumatra Barat atas undangan Payakumbuh Poetry Festival dan juga bertandang ke Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Di sana ia akan bekerjasama dengan departemen vokal klasik di bawah Della Rosa Panggabean, mempersiapkan karya-karyanya atas puisi para penyair Sumbar Muhammad Subhan, Riri Satria dan Heru Joni Putra serta alm. Chairil Anwar.

Rencananya, opera ‘Musuh si Mucikari’ akan dipentaskan perdana secara utuh pada April 2024, dengan disutradarai Chendra Panatan. (NVR)

By Editor1