JAKARTA, AKURATNEWS.co – Dunia sepak bola Korea Selatan (KFA) heboh setelah sebuah skandal besar terkuak ke publik. Berdasarkan laporan audit resmi pemerintah, KFA diduga berulang kali membiayai layanan hiburan dewasa dan gratifikasi seks untuk wasit-wasit asing yang memimpin pertandingan internasional penting, termasuk babak kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade.
Informasi mengejutkan ini pertama kali dibocorkan oleh stasiun televisi terkemuka Korea Selatan, JTBC. Fakta terlarang ini terungkap setelah dokumen audit komprehensif milik Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata (MCST) tahun 2016 terkait pelanggaran KFA akhirnya bisa diakses oleh publik.
“Berdasarkan dokumen rahasia tersebut, praktik suap berkedok hiburan malam ini terjadi pada kurun waktu Maret 2011 hingga Maret 2012. Meskipun investigasi pemerintah telah rampung bertahun-tahun lalu, temuan yang mencoreng panggung olahraga ini anehnya baru dibuka dan menjadi konsumsi publik saat ini,” tulis VN Express.
Pemerintah Korea Selatan menyimpulkan bahwa KFA telah melakukan aksi “jamuan tidak pantas” sedikitnya dalam tujuh kesempatan berbeda. Jamuan khusus ini disiapkan untuk para wasit dan pengawas wasit asing yang bertugas mengawal pertandingan tim nasional Korea Selatan, baik di laga resmi maupun persahabatan.
Deretan laga yang masuk dalam lingkaran skandal ini bukanlah pertandingan sembarangan, melainkan tiga laga Kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade, serta empat laga uji coba internasional. Tak tanggung-tanggung, fasilitas kencan terlarang ini dinikmati oleh lebih dari 10 wasit dan pengawas pertandingan internasional dengan pembayaran menggunakan kartu kredit resmi milik KFA di panti pijat dan tempat hiburan dewasa di Korea Selatan.
Salah satu kasus mencolok terjadi pada 29 Februari 2012 saat Korea Selatan menjamu Kuwait di Stadion Piala Dunia Seoul. Catatan transaksi menunjukkan bahwa kartu kredit KFA digunakan pada dini hari untuk membayar 500.000 won (sekitar Rp 5,5 juta) di sebuah panti pijat di kawasan elite Gangnam, Seoul, demi menyervis dua perangkat pertandingan, termasuk wasit ternama asal Jepang, Yuichi Nishimura.
Anggota staf komite wasit KFA sendiri mengakui kepada tim pemeriksa pemerintah bahwa biaya yang dibayarkan memang mencakup layanan intim. Staf tersebut bahkan membeberkan bahwa para wasit asing itulah yang kerap meminta fasilitas hiburan malam sejak mereka dijemput di bandara atau saat berada di hotel, dan KFA mengklaim hal tersebut sudah menjadi “praktik lumrah” pada masa itu.
Atas ramainya pemberitaan ini, pihak KFA akhirnya angkat bicara dan berdalih bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar 15 tahun lalu saat kepemimpinan mantan Presiden KFA, Cho Chung-yun. Pihak federasi menyatakan sulit mengonfirmasi rincian kejadian karena dokumen internal hanya disimpan maksimal lima tahun, namun mereka menegaskan bahwa sistem tata kelola keuangan dan penggunaan kartu kredit korporat KFA saat ini sudah jauh lebih ketat dan transparan./Ib.
