JAKARTA, AKURATNEWS.coRencana pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Bill Gates dalam proyek bantuan kesehatan, pertanian, dan pangan di Indonesia perlu diwaspadai lantaran berpotensi sarat kepentingan bisnis di balik bantuan yang ditawarkan.

Hal ini ditekankan dokter dan pakar kesehatan masyarakat, Dr. Tifauzia Tyassuma lewat masukan kritis kepada Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Dr. Tifa, bantuan senilai USD159 juta dari Bill & Melinda Gates Foundation tidak bisa dianggap murni sebagai bentuk filantropi, melainkan sebagai investasi yang membawa risiko bagi rakyat Indonesia.

Melalui unggahan viral di Facebook, Dr. Tifa meminta Presiden Prabowo untuk tidak terlalu “berlebihan” menyambut tawaran Bill Gates, yang dikenal sebagai pendiri Microsoft dan tokoh filantropi global.

Ia mengingatkan bahwa Gates adalah seorang pengusaha yang punya kepentingan bisnis di balik bantuan yang ditawarkan.

“Dia pengusaha murni, bukan Sinterklas. Uang yang diklaim sebagai hibah, adalah investasi murni,” tulis Dr. Tifa.

Ia mengungkapkan, bentuk bantuan dari Gates bukan berupa uang tunai (in cash), melainkan dalam bentuk barang dan teknologi (in kind), yang berpotensi menjadikan Indonesia sebagai lahan uji coba global.

Ia menyebutkan tiga hal utama yang menjadi perhatian:

  1. Vaksin TBC berbasis mRNA yang eksperimentatif dan akan diuji coba ke masyarakat Indonesia.
  2. Benih tanaman hasil rekayasa genetik (GMO) untuk ditanam dan diuji di lahan pertanian lokal.
  3. Pendirian pabrik tepung serangga maggot, yang digadang-gadang menjadi bahan baku utama daging sintetis di masa depan.

“Jika semua uji coba ini berhasil, hasilnya akan dijual ke dunia. Jadi investasi USD 159 juta itu akan kembali dengan keuntungan berkali-kali lipat,” kata Dr. Tifa.

Dr. Tifa menekankan pentingnya informed consent yang ketat bagi warga yang akan menjadi peserta uji coba vaksin mRNA.

Ia meminta agar seluruh proses dilakukan secara sukarela, tanpa tekanan atau ancaman. Ia juga menuntut pemerintah menyediakan kompensasi memadai jika terjadi efek samping atau bahkan kematian.

“Jika ada yang meninggal karena pemberian vaksin eksperimentatif, maka pemerintah harus memberikan santunan yang memadai agar keluarga yang ditinggalkan tidak hancur karena kehilangan,” tegasnya.

Pernyataan Dr. Tifa menuai reaksi beragam dari masyarakat. Banyak netizen yang mengapresiasi keberanian Dr. Tifa mengkritik secara terbuka rencana kerja sama internasional yang dinilai belum sepenuhnya transparan.

Tagar #WaspadaiBantuanGates dan #VaksinEksperimen sempat menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.

“Terima kasih, Bu Dokter. Akhirnya ada yang bicara terbuka. Ini bukan soal menolak kemajuan, tapi soal kedaulatan dan keselamatan rakyat,” tulis akun @rakyat_jelata di X (Twitter).

Namun, ada pula yang menilai bahwa kerja sama internasional seperti ini penting dalam mempercepat penanganan penyakit seperti TBC dan menciptakan inovasi pangan masa depan.

Sebagian netizen meminta agar informasi resmi dari pemerintah segera disampaikan agar tidak memunculkan spekulasi berlebihan. (NVR)

By editor2