JAKARTA, AKURATNEWS.co – Suara tabuhan Taiko berpadu harmonis dengan petikan lembut Guzheng memenuhi Auditorium BINUS University Jakarta, Senin (20/10) membuka ajang CultureVerse 2025, sebuah menjadi ruang perayaan lintas budaya yang memadukan bahasa, seni, kreativitas, dan kuliner dari tiga dunia berbeda: Jepang, Inggris, dan China.

Semuanya ini dihidupkan lewat tangan-tangan kreatif mahasiswa Faculty of Humanities BINUS University.

Festival ini menjadi ajang tahunan yang merefleksikan semangat globalisasi budaya melalui tiga program unggulan BINUS: Japanese Popular Culture (JPC), Creative Digital English (CDE), dan Global Business Chinese (GBC).

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Engkos Achmad Kuncoro, S.E., M.M., Wakil Rektor BINUS University menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjembatani dunia melalui bahasa dan seni.

“CultureVerse 2025 adalah bentuk nyata komitmen BINUS untuk memperkuat literasi budaya dan kreativitas lintas bidang, sekaligus menyiapkan mahasiswa agar berdaya saing global,” ujarnya.

Dukungan terhadap kegiatan seperti CultureVerse juga datang dari Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) lewat Feri A. Sipado, Direktur Sarana dan Prasarana yang menilai festival ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam memperkuat cultural branding Indonesia di kancah internasional.

Dalam sambutannya, Feri menegaskan pentingnya generasi muda untuk memanfaatkan kekayaan budaya lokal sebagai sumber kreativitas yang bisa mendunia.

“Pemerintah berusaha memberikan motivasi agar anak muda Indonesia bisa seperti generasi di negara lain yang bangga dengan budayanya. Seperti yang selalu ditekankan Pak Menteri Fadli Zon, budaya kita ini punya mega diversity yang luar biasa,” ujarnya.

“Sekarang mulai terlihat lewat karya seperti animasi Jumbo yang viral, Pacu Jalur yang juga ramai dibicarakan, tapi masih banyak lagi konten budaya yang bisa kita angkat. Nah, inilah yang kami dorong, bagaimana generasi muda mengolah konten budaya lokal agar bisa naik ke level internasional,” tambahnya.

Menurut Feri, festival seperti CultureVerse bisa menjadi contoh konkret bagaimana dunia pendidikan berperan aktif dalam mendorong diplomasi budaya Indonesia. “Kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan komunitas kreatif sangat penting untuk membangun narasi baru budaya Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.

Dari Jepang, Japanese Popular Culture (JPC) membawa semangat budaya pop yang telah menjelma menjadi gaya hidup global. Mahasiswa menampilkan Coswalk Competition, J-Pop Karaoke Session, dan Japanese Pop Quiz Competition yang memikat pengunjung.

Tak ketinggalan Calligraphy Session yang menghubungkan nilai klasik Jepang dengan semangat kreatif modern, menjadi bukti bahwa tradisi tetap hidup dalam ruang ekspresi baru.

Sementara itu, Creative Digital English (CDE) menghadirkan sentuhan digital storytelling yang memadukan bahasa dan seni. Kompetisi “Word to Canvas Adaptation” mengajak pelajar SMA menerjemahkan puisi ke dalam karya visual, menghadirkan pengalaman unik antara kata dan gambar.

Dari panggung utama, para mahasiswa menampilkan Broadway performance yang menggabungkan kemampuan bahasa, teater, dan seni musik menegaskan bahwa bahasa Inggris bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medium ekspresi yang mendunia.

Program Global Business Chinese (GBC) melengkapi kekayaan budaya ini dengan menghadirkan lomba desain “Harmoni Dua Bahasa” bersama Taipei Economic and Trade Office (TETO). Kompetisi ini menekankan pentingnya menghubungkan kreativitas dan peluang bisnis lintas budaya di era hubungan dagang Indonesia–Tiongkok yang semakin erat.

Panggung utama CultureVerse 2025 menjadi saksi kolaborasi budaya Jepang dan Tiongkok melalui Taiko Performance dan Guzheng Performance. Perpaduan dua instrumen tradisional ini menggambarkan semangat unity in diversity, keberagaman yang saling melengkapi.

Puncak acara berlangsung pada 21 Oktober 2025 melalui Talk Show Creative Expression yang menghadirkan nama-nama inspiratif: rapper Saykoji, musisi sekaligus dosen Aziz “Comi” (Payung Teduh), penulis dan alumni Sofi Meloni, serta Puteri Indonesia 2018 Sonia Fergina, juga alumni CDE.

Diskusi mereka membahas bagaimana bahasa bertransformasi menjadi medium seni, musik, dan kreativitas yang menyatukan lintas generasi dan budaya.

Dekan Faculty of Humanities, Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si., menegaskan makna mendalam di balik festival ini.

“Belajar bahasa asing bukan sekadar teori, tapi tentang membuka ruang untuk kreativitas dan kolaborasi nyata. CultureVerse adalah bukti bahwa mahasiswa BINUS siap bersaing dan berkontribusi di dunia global,” ujarnya.

Dengan tema besar “Celebrate the Future Through Language, Art, and Creativity,” CultureVerse 2025 membuktikan bahwa bahasa bukan lagi batas, melainkan jembatan untuk menciptakan masa depan bersama di era global. (NVR)

By editor2