JAKARTA, AKURATNEWS.co – Film berlatar belakang drama religi kembali hadir meramaikan layar lebar Indonesia.

Bertajuk ‘Dalam Sujudku’, karya terbaru produksi Proj3ct 69 yang dijadwalkan tayang pada 16 April 2026 dengan mengusung kisah nyata.

Film ini mencoba merangkum pergulatan batin dalam rumah tangga, tentang luka, pengkhianatan, hingga pencarian makna spiritual di tengah ujian hidup.

Di bawah arahan sutradara Rico Michael dan produser Donnie Syech, film ini menjadikan doa dan keikhlasan sebagai fondasi utama cerita.

Narasi dibangun dari sudut pandang karakter yang berada di titik terendah, lalu perlahan menemukan kekuatan dalam sujud, sebuah simbol kepasrahan total kepada Tuhan.

Aktor Marcell Darwin memimpin jajaran pemeran bersama Denis Adhiswara, Vinessa Inez, Naura Hakim, Ryuka, Chika Waode hingga Dominique Sandra.

Secara dramatik, film inij uga bertumpu pada kekuatan akting. Denis Adhiswara tampil cukup mencuri perhatian lewat perannya sebagai ustadz, karakter yang jauh dari persona yang biasa ia tampilkan.

“Peran ini mengubah cara saya melihat akting. Bukan hanya menyampaikan dialog, tapi juga memastikan pesan spiritualnya sampai,” ujarnya di sela presscreening film ini di Jakarta, Jumat (11/4).

Sementara itu, Vinessa Inez menghidupkan sosok Aisyah dengan pendekatan yang lembut namun kuat. Karakternya menjadi pusat empati penonton, figur yang tetap bertahan di tengah badai konflik.

Di sisi lain, Naura Hakim menghadirkan karakter dengan spektrum emosi yang kompleks. Ia tak sekadar menjadi antagonis, tetapi juga representasi manusia yang terluka.

Dari sisi sinematografi, ‘Dalam Sujudku’ memilih pendekatan visual yang sederhana dan simbolik. Banyak adegan memanfaatkan pencahayaan natural dengan komposisi statis, menciptakan kesan intim sekaligus reflektif.

Namun, pendekatan ini masih kurang dieksplorasi secara visual hingga membuat beberapa momen dramatis terasa kurang menggigit guna memperkuat konflik batin karakter di film ini

Padahal, dengan tema yang berat dan emosional, film ini memiliki ruang besar untuk eksplorasi visual yang lebih berani, misalnya melalui metafora visual atau transisi sinematik yang lebih dinamis.

Secara struktur cerita, :Dalam Sujudku’ berjalan dengan alur linear yang mudah diikuti. Konflik dibangun bertahap hingga mencapai klimaks emosional, lalu ditutup dengan resolusi yang sarat pesan moral.

Kelebihannya, film ini terasa sangat relatable bagi penonton Indonesia, terutama yang akrab dengan dinamika rumah tangga dan nilai religius.

Namun, kelemahannya terletak pada pola cerita yang cenderung bisa ditebak. Tidak banyak twist atau kejutan yang membuat penonton benar-benar terkejut. Beberapa konflik bahkan terasa seperti repetisi dari formula drama religi yang sudah sering ditemui.

Yang perlu dicatat, elemen musik menjadi salah satu kekuatan penting dalam film ini. Lagu ‘Titipan Ilahi’ yang dibawakan Evelyn Wijaya hadir sebagai pengikat emosi, terutama di momen-momen krusial.

Dengan lirik yang menyentuh tentang takdir dan doa, lagu ini berhasil memperdalam suasana dramatis tanpa terasa berlebihan.

Ditambah dengan beberapa soundtrack lain, film ini cukup berhasil membangun atmosfer yang konsisten dari awal hingga akhir.

Evelyn sendiri mengaku proyek ini menjadi pengalaman berharga dalam kariernya.

“Ini bukan sekadar lagu, tapi bagian dari cerita. Jadi saya harus benar-benar masuk ke emosinya,” ungkapnya.

Pada akhirnya, ‘Dalam Sujudku’ tetap menawarkan pengalaman menonton yang emosional dan reflektif. Tidak mencoba menjadi kompleks, melainkan fokus pada penyampaian pesan tentang kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan doa.

Seperti disampaikan sang sutradara, Rico Michael, film ini ditujukan bagi mereka yang tengah berjuang dalam hidup.

‘Sebuah pengingat bahwa harapan selalu ada, bahkan di titik terendah sekalipun,” ucap Rico. (NVR)

By editor2