JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di sebuah ruang rapat yang biasanya dipenuhi presentasi PowerPoint, jargon pembangunan, dan kalimat ‘sinergi lintas sektor’, tiba-tiba muncul satu adegan yang tak ada di agenda resmi, seorang bupati bersujud.

Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu yang menjadi wakil dari 30 kabupaten tertinggal (daerah 3T) yang selama puluhan tahun masih bergulat dengan kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur ini menundukkan tubuhnya di hadapan para pejabat pusat dalam rapat koordinasi percepatan pembangunan daerah tertinggal di Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Rabu (25/2).

Hal itu terjadi bukan karena kalah argumen. Bukan pula karena sedang mencari jabatan.

Ia bersujud karena satu hal yang mungkin terasa asing di ruang birokrasi: kelelahan menjadi miskin.

Dalam forum itu, Amizaro tidak datang membawa grafik pertumbuhan ekonomi atau presentasi penuh istilah teknokratis. Ia datang membawa kalimat yang terlalu sederhana, tetapi justru menampar keras isi ruangan.

“Pak Menteri, Pak Gubernur, dan Bapak-Ibu semuanya, kami ini sudah capek miskin. Capek miskin kami,” ujarnya.

Kalimat itu tidak panjang. Tidak canggih. Tetapi cukup untuk membuat ruangan hening.

Sebab jarang sekali seorang kepala daerah mengakui sesuatu yang selama ini sering disembunyikan dalam laporan pembangunan: kemiskinan yang tak kunjung pergi.

Amizaro ditunjuk sebagai koordinator 30 kabupaten tertinggal di Indonesia. Ia datang bukan hanya membawa keluhan Nias Utara, tetapi juga suara dari puluhan daerah yang masih berkutat dengan masalah paling dasar: listrik, internet, rumah layak huni, dan jalan.

Hal-hal yang di sebagian kota besar bahkan sudah dianggap terlalu sepele untuk dibicarakan.

Dalam pidatonya, Amizaro membandingkan realitas yang terasa seperti dua negara berbeda dalam satu republik.

Di kota-kota besar di Jawa, para kepala daerah mulai bicara tentang Artificial Intelligence, mobil listrik, kawasan bisnis digital, hingga pusat perbelanjaan modern.

Sementara di daerahnya, diskusi masih berhenti pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana supaya listrik bisa menyala dengan stabil.

“Kalau kepala daerah di Jawa berbicara soal AI, mal, jalan tol, kami masih bicara rumah tidak layak huni, listrik, dan internet,” katanya.

Ia bahkan mengingatkan satu fakta yang terdengar ironis. Indonesia sudah merdeka hampir delapan dekade.

Namun bagi sebagian wilayah, kemerdekaan itu masih terasa seperti konsep yang belum selesai diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Kemerdekaan Indonesia 80 tahun, sesungguhnya tidak bicara listrik. Daerah kami masih berjuang bagaimana ada listrik,” ujarnya.

Di tengah pidatonya, Amizaro tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak diajarkan dalam buku tata kelola pemerintahan.

Ia bersujud. Di samping podium. Di depan para pejabat pusat. Di hadapan kamera. Sujud itu bukan ritual resmi negara. Bukan pula bagian dari protokol rapat. Itu adalah bahasa tubuh dari keputusasaan.

“Sehingga kami mohon, Pak. Kami sudah capek miskin. Kami mewakili kawan-kawan daerah 3T,” katanya.

Reaksi di ruangan pun beragam. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang terdiam.
Ada yang tersenyum tipis, mungkin bingung harus bereaksi bagaimana. Sebab jarang sekali kemiskinan dipresentasikan dengan cara yang begitu telanjang.

Di kesempatan yang sama, Amizaro juga menyampaikan permintaan yang tidak kalah sederhana: akses untuk bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.

Bagi seorang bupati dari daerah tertinggal, jalan menuju Istana bukanlah jalur yang mudah.

“Saya sebagai bupati merasa tidak ada apa-apanya. Dengan cara apa saya bertarung? Tidak ada,” ujarnya.

Ia ingin menyampaikan langsung kondisi masyarakatnya kepada pemimpin tertinggi negara. Bukan karena tidak percaya kepada para menteri.

Tetapi karena ia ingin memastikan satu hal: suara rakyat kecil tidak berhenti di meja rapat.

Di negeri yang gemar merayakan pencapaian, sujud seorang bupati tentu terasa mengganggu. Ia seperti mengingatkan bahwa di balik statistik pertumbuhan ekonomi, masih ada wilayah yang belum benar-benar merasakan arti kemerdekaan.

Di satu sisi Indonesia sibuk berbicara tentang ekonomi digital, startup, dan kecerdasan buatan.

Di sisi lain, masih ada daerah yang hanya ingin satu hal sederhana: lampu menyala saat malam tiba.

Sujud Amizaro Waruwu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun pertanyaannya bisa bertahan jauh lebih lama.

Jika seorang kepala daerah harus bersujud untuk meminta perhatian pembangunan, maka pertanyaan paling jujurnya mungkin ini: Apakah benar negeri ini sudah bahagia?

Dan apakah pembangunan memang belum sampai atau kita yang terlalu lama berpura-pura tidak melihatnya? (NVR)

By editor2