JAKARTA, AKURATNEWS.co – Peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki posisi sangat penting dalam perekonomian di Indonesia, walau posisinya  belumlah ideal.

Namun masih dibutuhkan beberapa prasyarat khusus agar UMKM dapat berbicara banyak dan berdaya saing global, agar UMKM mampu bersaing di pasar global dengan kualitas produk dan layanan yang tinggi.

Selain itu, UMKM harus bankable atau mendapatkan akses mudah ke pembiayaan, atau mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan pinjaman dan modal usaha untuk mengembangkan bisnisnya.

Di luar pelibatan teknologi terintegrasi, atau penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan jangkauan pasar, serta adanya kemitraan yang kuat, atau kerjasama yang erat dengan pelaku bisnis besar dan pemerintah untuk saling menguntungkan.

Di atas itu semua harus ada peningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang unggul, yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai.

Plus adanya lingkungan bisnis yang kondusif, dengan regulasi yang sederhana, birokrasi yang efisien, dan dukungan infrastruktur yang memadai.

“Kalau ada pejabat setingkat Menteri bilang terlalu banyak aturan birokrasi yang membuat UMKM sulit berkembang, mending dia ngga usah jadi Menteri saja. Kan dia ditunjuk jadi menteri untuk mengurai persoalan itu,” demikian dikatakan Dr Anggawira,D, Sekretaris Jenderal HIPMI 2022-2025 dalam sharing discussion ‘Mengurai Pekerjaan Rumah Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk Memberdayakan dan Mengembagkan UMKM’ di Jakarta, Kamis (25/7).

Ia menambahkan, tantangan UMKM di Indonesia memang tidak kecil, meskipun memiliki potensi besar, seperti akses pembiayaan terbatas. Sehingga banyak UMKM kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank. Serta kualitas produk yang belum merata. Buktinya, masih banyak UMKM yang menghasilkan produk dengan kualitas yang kurang baik.

“Jadi, jangan malah UMKM malah diajak berkompetisi dengan BUMN,” katanya.

Ia menilai, justru harus sebaliknya, pemerintah dan pihak swasta perlu memberikan pelatihan dan insentif bagi UMKM untuk mengadopsi teknologi. Atau Pemerintah perlu memberikan dukungan dalam hal sertifikasi produk dan pengembangan desain produk.

Dengan dukungan yang tepat, UMKM dapat menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi saat ini, masih menurut Dr. Anggawira, profesi enterpreuner ruangnya sudah semakin terbuka luas, dan sangat banyak. Dengan kata lain, profesi enterpreuner sudah sangat terhormat atau sudah hampir majority.

“Yang terpenting bukan hanya minatnya, tapi mampu menciptakan ekosistemnya. Jangan sampai pengusaha kita stunting. Demikian pesan (Wapres) Makruf Amin,” katanya lagi sembari menambahkan, terma stunting mengemuka karena banyak pengusaha yang bisnisnya selama 10 tahun mandeg atau tidak berkembang.

“Meski sebenarnya kita kaya akan SDA yang bisa dijadikan keunggulan komparatif dibanding bangsa lain,” pungkasnya./ Ib.

By Editor1