JAKARTA, AKURATNEWS.co –  Setelah para Pejabat Bea dan Cukai (BC), kini Jajaran PT. Angels Products dicecar Kejaksaan Agung guna menemukan tersangka Skandal Impor Gula di Kemendag sejak 2015 sampai 2023.

Perkara ini berjalan tersendat dibanding perkara Timah yang sudah menetapkan dua tersangka. Skandal Impor Gula senasib dengan Skandal Emas yang bersama Skandal Timah disidik sejak awal Oktober 2023.

Jajaran Angels Products yang diperiksa, adalah Z selaku Finance and Acoounting, dan DC (Head Finance and Accounting). Hingga pemeriksaan selesai, belum seorang pun dicegah bepergian ke luar negeri tanpa ada penjelasan.

Kapuspenkum Ketut Sumedana tidak menerangkan alasan diperiksanya kedua eksekutif Angels Products tersebut. Dia hanya mengatakan pemeriksaan dilakukan guna memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan.

“Semua dalam rangkaian untuk membuat terang tindak pidana (guna menemukan tersangka, Red), ” katanya diplomatis, Kamis (15/2) malam.

Terakhir, Kejagung 5 Pejabat BC pada Rabu (7/2) atas nama RR (Kepala Kantor Wilayah Ditjen BC Riau Sumbar), TPGS dan PS (Pegawai pada Direktorat Penindakan dan Penyidikan Ditjen BC).

Dua lainnya diperiksa pada Selasa (6/1) atas nama S (Pegawai Negeri Sipil pada Kantor BC Bea Cukai Dumai) dan FF (Kepala BC Dumai tahun 2018 -2022).

Untuk diketahui, Angels Products adalah entitas bisnis bergerak pada industri gula kristal rafinasi, berlokasi di Banten. Dia tercatat sebagai anak perusahaan PT. Pasifik Agro Sentosa berdiri 16 September 2002 dan aktif di awal tahun 2003.

Angels Products adalah pabrik gula kristal rafinasi pertama di Indonesia yang beroperasi pada 1997 dengan kapasitas awal 500 ton per hari (175.000 ton per tahun) dan meningkat hingga mencapai 1.750 ton per hari (600.000 ton per tahun).

Perusahaan ini bisa disebut pelopor pertama yang mengaplikasikan Auto Boiling System dan terus mengembangkan teknologi. Serta, metode operasional sehingga dapat menjadi perusahaan penyedia gula kristal rafinasi yang unggul baik dalam mutu produk, maupun pelayanan bagi para pihak terkait.

Dari aneka informasi terhimpun, Angels diperiksa guna mengetahui secara persis kebutuhan gula pada 2015 -2023.

Seperti diketahui, 2019 dan 2020 Pemerintah menginstruksikan impor gula mentah dan gula kristal putih terkait kelangkaan gula. Kapasitas pabrik gula dalam negeri seperti Angels belum memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

Pada 2019, tercatat lima perusahaan yang mengantongi izin impor yakni, PT. Adikarya Gemilang sebesar 70. 050 ton, PT. Kebun Tebu Emas (52. 140 ton), PT. Sukses Mantap Sejahtera (50. 300), PT. Rejoso Manis Indo (60. 140) dan PT. Industri Gula Nusantara (20. O00 ton).

Dari sejumlah importir, baru PT. Kebun Tebu Emas yang diperiksa pada Kamis (7/12/2023) atas nama ASB diduga Agus Susanto selaku Dirut dan HI (Head Legal merangkap Human Resources Development dan General Manager).

Sementara Importir yang mendapat izin impor gula tahun 2020, terdiri PT. Kebun Tebu Emas (35 ribu ton), PT. Adikarya Gemilang (30 ribu ton), PT. Kebon Agung (21. 422 ton).

Berikutnya, PT. Rejoso Manis Indo (20 ribu ton), PT. Prima Alam Gemilang (50 ribu ton), PT. Gendhis Multi Manus (29. 750 ton), PT. Sukses Mantap Sejahtera (20 ribu ton) dan PT. Madubaru (10 ribu ton).

Pemerintah juga sempat memberi penugasan kepadaa Perum Bulog dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk mengimpor GKP siap konsumsi masing-masing sebesar 50.000 ton.

“Kita penuh harap Kejagung memeriksa semua pihak terkait agar aktor intelektual tidak lepas jerat hukum, ” komentari Ketua Tim Advokasi Patriot Indonesia Iqbal Daud Hutapea secara terpisah. (ahi)

Teks Photo: Pabrik Gula PT. Angels Products di Bojonegara, Serang./Teg.

By Editor1