JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di bandara modern di Ho Chi Minh City, antrean wisatawan asing tampak mengular sejak pagi.
Bahasa Mandarin, Korea, hingga Inggris bercampur di ruang kedatangan. Vietnam, yang dua dekade lalu belum masuk peta besar pariwisata Asia Tenggara, kini menjelma menjadi magnet baru wisata dunia.
Sementara itu, ribuan kilometer ke selatan, Bali, ikon pariwisata Indonesia justru bergulat dengan kemacetan, sampah, dan kepadatan yang kian menyesakkan.
Pulau Dewata sebenarnya masih memesona, tetapi perlahan kelelahan.
Data terbaru ASEANStats menjadi cermin keras bagi Indonesia.
Pada 2024, kunjungan wisatawan mancanegara ke ASEAN menembus lebih dari 127 juta orang. Thailand memimpin dengan 35,5 juta wisatawan, disusul Malaysia (25 juta), Vietnam (17,6 juta), Singapura (16,5 juta), dan Indonesia yang harus puas di posisi kelima dengan 14,3 juta wisatawan.
“Ini bukan sekadar soal angka, ini soal arah,” ujar Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji di Jakarta, baru-baru ini.
Dua tahun berturut-turut, Vietnam sukses menyalip Indonesia, negara dengan bentang alam dan kekayaan budaya yang jauh lebih besar.
Vietnam bergerak cepat pasca pandemi. Dari hanya sekitar 4.000 wisatawan asing pada 2021, lonjakan drastis terjadi: 12,6 juta pada 2023, lalu 17,6 juta pada 2024.
Bandara Long Thanh yang sedang dibangun diproyeksikan mampu menampung 100 juta penumpang per tahun, sebuah sinyal kuat bahwa pariwisata ditempatkan sebagai mesin utama ekonomi nasional.
Indonesia, di sisi lain, masih berkutat pada keterbatasan konektivitas udara langsung ke destinasi unggulan.
“Kita terlalu lama bergantung pada Bali, sementara negara lain membangun banyak pintu masuk,” kata Sandy.
Dampaknya terlihat jelas pada pangsa pasar. Pada 2022, Indonesia masih menguasai 13,51 persen pasar wisata ASEAN.
Angka itu turun menjadi 11,45 persen pada 2023, dan kembali melemah ke 11,28 persen pada 2024.
Kekalahan paling telak terlihat dari perebutan wisatawan China, pasar terbesar dunia. Sepanjang 2024, kunjungan turis asal China ke Indonesia hanya sekitar 1,2 juta orang. Bandingkan dengan Thailand (6,7 juta), Vietnam (3,7 juta), Malaysia (3,3 juta), atau Singapura (3,1 juta).
Padahal, bagi negara-negara tersebut, wisatawan China menjadi motor utama kebangkitan pariwisata pasca pandemi.
“Ini sinyal persoalan struktural,” ujar Sandy.
Mulai dari minimnya penerbangan langsung, promosi yang belum tajam dan tersegmentasi, hingga kesiapan destinasi non-Bali yang belum konsisten.
Bali masih menjadi wajah pariwisata Indonesia, tetapi wajah itu mulai menunjukkan garis lelah. Kemacetan parah di Canggu dan Ubud, persoalan sampah yang tak kunjung tuntas, serta tekanan lingkungan akibat alih fungsi lahan membuat pengalaman wisata tak lagi seideal dulu.
Ketergantungan pada satu destinasi menjadi pedang bermata dua. Bali menghasilkan devisa besar, tetapi juga menyimpan risiko besar jika daya dukungnya terlampaui.
Pemerintah telah lama menyadari masalah ini. Program “Bali Baru” dan pengembangan Destinasi Superprioritas (DSP) yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo digagas sebagai solusi.
Namun di lapangan, realitasnya belum seindah rencana. Ekosistem layanan belum matang, investasi belum berkelanjutan, dan konektivitas internasional masih terbatas.
Bahkan Likupang, yang sempat digadang-gadang sebagai bintang baru, kini kehilangan momentum setelah tak lagi masuk prioritas utama RPJMN 2025-2029.
“Kalau DSP hanya jadi proyek fisik tanpa arus wisatawan, itu kegagalan kebijakan,” tegas Sandy.
Ironisnya, Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara, dengan ribuan pulau, ratusan budaya, dan bentang alam kelas dunia. Namun keunggulan itu belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi daya saing.
Masalahnya bukan kekurangan destinasi, melainkan keberanian untuk berbenah: biaya transportasi domestik yang mahal, akses internasional yang timpang, hingga kualitas layanan yang belum merata.
“Pilihan kita hanya dua. Berani melakukan perombakan besar demi merebut kembali pasar wisatawan dunia, atau pasrah melihat devisa pariwisata terus mengalir ke negara tetangga,” tutup Sandy.
Di tengah laju Vietnam yang kian kencang, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia punya potensi, melainkan seberapa serius negara ini ingin memenangkannya. (NVR)
