SEMARANG, AKURATNEWS.co – Usai Manado, capres nomor urut satu, Anies Baswedan melanjutkan kampanye dengan mendatangi kembali Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/1).
Kedatangannya ke Semarang kali ini juga dengan membawa keyakinan bahwa pesan perubahan bisa diterima banyak pihak, termasuk di Semarang dan Jawa Tengah umumnya.
“Kami melihat dari semua tempat aspirasi untuk perubahan itu ada, dan aspirasi untuk perubahan itu lintas partai, lintas identitas, lintas sektor, jadi kami datang menyampaikan perubahan,” kata Anies begitu tiba di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang.
Anies menambahkan, selama berkeliling ke seluruh pelosok nusantara, pesan perubahan bisa diterima orang dari latar belakang beragam.
“Dari pengalaman kami, ketika bicara tentang perubahan itu latar belakang partai bisa macam macam,” ujar Anies.
Karena itu, lanjut Anies, kendati Jawa Tengah disebut sebagai wilayah dengan mayoritas pendukung salah satu partai, hal itu tak mengurangi keyakinannya bahwa pesan perubahan bisa menjangkau semua.
“Jadi walaupun di sini disebut sebagai wilayah yang memiliki basis kepartaian A, B, C, kami cukup yakin pesan perubahan itu pesan yang bisa menjangkau semua,” ungkapnya.
Selain kampanye, Anies juga menghadiri acara Desak Anies. Saat menjawab pertanyaan tentang keprihatinan mayoritas intelektual kampus terhadap kondisi darurat demokrasi, Anies mengungkapkan dalam sistem politik demokrasi, ada saluran-saluran yang dipakai untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, yakni DPR dan partai politik.
“Ketika saluran-saluran itu berfungsi, kampus akan berkonsentrasi pada urusan pendidikan dan urusan penelitian. Karena proses politik berjalan. Apa yang menjadi aspirasi publik diproses. Namun, ketika yang menjadi aspirasi publik itu tidak lagi diungkapkan oleh partai-partai, dewan, yang terjadi justru penseragaman. Terjadi kemampetan. Maka aspirasi itu mencari jalur baru. Kampus menjadi artikulator ketika aspirasi itu mampet,” ujar Anies.
Dia mengungkapkan, ketika kampus-kampus menyuarakan pendapat, artinya ada aspirasi yang kuat yang mampet, yang tidak diutarakan dalam saluran-saluran politik yang ada.
“Di situ kemudian kampus bergerak dan menyuarakan, karena di situ kampus tempat kaum cendekia membaca situasi apa yang terjadi. Tetapi mereka juga tahu ini bukan wilayah yang mereka perlu terlibat secara langsung, ketika proses politik berjalan. Tetapi ketika itu mampet, mereka bersuara,” ujar Anies.
Anies pun menegaskan kampus tidak berpolitik secara partisan.
“Kampus berpolitik secara kenegaraan. Jangan menganggap kampus partisan, karena kampus itu pandangannya beda-beda. Datang ke UGM, pandangannya beda-beda. Datang ke Undip, pandangannya beda-beda. Tetapi begitu sampai pada urusan etika, urusan tata negara mereka berpandangan sama,” ujar dia.
Menurut dia, jangan merendahkan proses demokrasi dan jangan merendahkan etika apapun afiliasi partai politik.
“Jadi ini pertanda demokrasi sedang dilucuti. Kebebasan berbicara turun luar biasa, oposisi yang mengambil posisi kritis pada negara dikuyo-kuyo, pemilu yang bebas. Pekan depan (saat Pilpres 14 Februari 2024) kita akan menyaksikan apakah Indonesia punya demokrasi yang matang atau mengalami kemunduran demokrasi,” pungkas Anies. (NVR)
