JAKARTA, AKURATNEWS.co – Dunia otomotif terus mengalami guncangan. Setelah Nissan Motor PHK puluhan ribu karyawannya dan berencana menutup pabrik, kini KTM yang memproduksi sepeda motor asal Austria yang terkenal dengan produksi motor sport dan off-road, kini berada di ambang kebangkrutan.
KTM dikabarkan telah memberhentikan sekitar 1.850 karyawannya tmelalui pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Fenomena ini menarik perhatian banyak orang yang penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan yang terkenal di dunia balap MotoGP ini.
Keputusan untuk merumahkan 1.850 karyawan bukanlah sebuah langkah yang diambil dengan mudah.
Perusahaan induk KTM, Pierer Mobility, baru-baru ini melaporkan kerugian besar yang mendorong mereka ke ambang kebangkrutan.
Pada 2024, KTM mengalami kerugian operasional yang cukup signifikan, dengan laporan menunjukkan kerugian sebelum pajak sebesar 1,28 miliar Euro atau sekitar Rp 21,76 triliun.
Pendapatan perusahaan juga turun drastis sebesar 29,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dari 2,66 miliar Euro pada 2023 menjadi 1,88 miliar Euro pada 2024.
Dalam kondisi ekonomi yang serba sulit ini, utang bersih KTM juga melambung tinggi, mencapai 1,64 miliar Euro atau sekitar Rp27,88 triliun.
Penyebab utama kebangkrutan KTM tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang tengah bergejolak.
Harga bahan baku yang semakin mahal, biaya produksi yang membengkak, serta penurunan daya beli konsumen di pasar global membuat banyak perusahaan kesulitan.
Situasi berat ini juga dirasakan oleh KTM.
Sementara itu, utang perusahaan yang semakin menumpuk menambah beban yang semakin berat.
KTM bukanlah satu-satunya perusahaan yang menghadapi masalah besar di tengah ketidakpastian ekonomi.
Banyak perusahaan besar lainnya yang terpaksa melakukan PHK Massal dan restrukturisasi untuk bertahan hidup.
Namun, keputusan KTM untuk melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 1.850 karyawan menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang mereka hadapi.
Pada akhir 2024, 874 karyawan diberhentikan, diikuti dengan 750 karyawan pada awal 2025. Bahkan sudah ada rencana untuk memberhentikan 220 karyawan lainnya./Ib. Foto: Istimewa.

