JAKARTA, AKURATNEWS.co – Minggu (8/5) pagi, Monumen Nasional (Monas) bukan sekadar tugu kebanggaan Ibukota. Di bawah langit yang biru, hamparan seragam putih dan merah muda menyatu dalam lautan manusia.

Lebih dari 10 ribu bidan dari seluruh penjuru negeri berkumpul memperingati Hari Ulang Tahun ke-74 Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Namun, acara ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah seruan kebangsaan, bahwa bidan yang selama ini bekerja dalam diam adalah fondasi dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.

Di tengah kerumunan, Nur Aisyah (46), seorang bidan dari desa di perbatasan Kalimantan Utara, menatap Monas dengan mata berkaca.

“Saya sudah membantu lebih dari 3.000 kelahiran. Tapi baru kali ini saya merasa diperhitungkan,” tuturnya lirih.

Cerita Aisyah adalah potret ribuan bidan di Indonesia: bekerja di tempat yang jauh dari fasilitas kesehatan modern, menjadi segalanya bagi warganya, dokter, konselor, guru, bahkan kadang sopir darurat.

“Bidan adalah garda terdepan. Mereka menjangkau daerah yang tak bisa dijangkau dokter,” ujar Wakil Ketua Komisi IX DPR, Sari dalam sambutannya.

Ia menegaskan pentingnya investasi pada kualitas dan kesejahteraan bidan sebagai syarat utama membangun generasi unggul.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyambung semangat itu dengan gagasan sistemik. Ia menyoroti perlunya reformasi menyeluruh pada pelatihan dan sistem rujukan kebidanan.

“Kita harus bentuk ekosistem pendidikan berjenjang, bidan pemula harus dibina, yang senior didorong mandiri,” ucapnya.

Menurut Budi, regulasi baru sedang disusun agar bidan berkualitas bisa membuka praktik mandiri, terutama di daerah minim tenaga dokter. Tak hanya kompetensi yang ditingkatkan, tetapi juga posisi mereka dalam rantai pelayanan kesehatan nasional.

Di era digital, IBI tak ingin ketinggalan. Ketua Umum IBI, Ade Jubaidah, memperkenalkan ODELIA, sebuah aplikasi mobile yang dirancang sebagai penghubung antara bidan dan pasien.

Melalui ODELIA, ibu hamil bisa memantau kondisi kehamilan, berkonsultasi secara daring, dan mendapat edukasi langsung dari bidan terdekat.

“Kita ingin bidan hadir tak hanya di ruang praktik, tapi juga di layar gawai. Teknologi harus menjangkau hingga ibu di pelosok,” ujar Ade.

Saat ini, ada sekitar 35.000 bidan praktik mandiri di Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 18.000 telah mendapat sertifikasi “Bidan Delima”, sebuah predikat bagi bidan dengan pelatihan dan pengawasan mutu berkelanjutan.

Hari itu, tidak hanya Jakarta yang merayakan. Serentak di 38 provinsi, lebih dari 100.000 bidan dari berbagai institusi, dari rumah sakit, klinik, kampus hingga pelosok desa, melangkah bersama dalam fun walk.

Mereka berjalan bukan hanya merayakan ulang tahun organisasi, tetapi mengarak harapan kolektif: bidan harus mendapat tempat setara dalam pembangunan nasional.

Di Jakarta, suasana semarak terasa dari pagi. Musik, pameran alat kesehatan, hingga yel-yel antar daerah menggema di tengah lapangan Monas. Di setiap senyum dan langkah mereka, tersimpan dedikasi yang nyaris tak terdengar, namun membentuk pondasi masa depan bangsa.

Dr. Wihaji, Kepala BKKBN, menegaskan pentingnya peran bidan dalam menghadapi bonus demografi Indonesia.

“Tanpa bidan, bicara SDM unggul hanya mimpi. Gizi buruk, stunting, kematian ibu—semua harus dicegah dari hulu,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi antara IBI, BKKBN, dan Kemenkes sangat penting dalam program keluarga berencana, edukasi pranikah, hingga pengawasan tumbuh kembang anak.

Sebagai penutup, suasana acara mencair penuh tawa ketika Menkes Budi melontarkan pantun jenaka namun sarat makna:

“1003 burung pipit,
main ke telaga paling utama,
Ikatan Bidan Indonesia,
orang yang asik dan bersahaja.”

Pantun itu bukan sekadar selingan. Ia adalah simbol penghormatan bagi bidan, mereka yang bekerja dalam sunyi, tapi tak tergantikan.

Ribuan bidan memenuhi Monas saat Fun Walk HUT IBI ke 74.

Peringatan HUT IBI ke-74 bukan hanya penanda usia. Ia adalah deklarasi: bahwa dari Monas hingga perbatasan Papua, dari kota besar hingga pulau terpencil, bidan akan terus berjalan bersama bangsa ini menuju 2045.

Mereka bukan hanya menyambut kehidupan baru, mereka adalah penjaga kualitas hidup sejak detik pertama. Di tangan mereka, masa depan Indonesia digendong, dirawat, dan dilahirkan.

Dan dari langkah-langkah senyap mereka, tumbuh harapan tentang negeri yang sehat, kuat, dan bermartabat.

Selamat ulang tahun ke-74, IBI. Langkahmu adalah cahaya. (NVR)

By editor2