JAKARTA, AKURATNEWS.co – Gelombang protes terhadap Badan Gizi Nasional (BGN) terus bergulir.

Sejumlah anggota Aliansi Pemantau Program Badan Gizi Nasional (APPBGN) bersama calon mitra dapur MBG daerah mendatangi dan menggelar aksi damai di kantor BGN, Jakarta, Kamis (16/10).

Aksi ini digelar sebagai bentuk tuntutan transparansi dan akuntabilitas terhadap pengelolaan program gizi nasional yang dinilai sarat penyimpangan.

APPBGN menuding adanya praktik tidak transparan, termasuk dugaan jual beli titik dapur dan manipulasi proses verifikasi mitra daerah.

Dalam orasinya, Ketua Umum APPBGN Ahmad Yazid mengungkapkan dugaan baru yang mencengangkan. Ia menyebut bahwa sebagian tim verifikator BGN justru melakukan praktik jual beli alat dapur dan status verifikasi bagi calon mitra program gizi.

“Yang paling penting dan paling parah adalah tim verifikator berjualan dan berdagang. Dari laporan yang kami terima, mereka mentransaksikan alat-alat dapur seperti ompreng dan perlengkapan lainnya,” ungkap Yazid.

“Kalau mau centang biru harus beli sama mereka. Ini BGN apa ini, kok jadi jualan? Makanya seruan kami untuk menuntut mundur sudah sangat beralasan. Ada titik dijual, Demi Allah saya nyatakan ini!” tegasnya.

APPBGN menilai praktik semacam ini menunjukkan adanya penyimpangan struktural di tubuh BGN dan menuntut pengunduran diri pejabat serta tim verifikator yang diduga terlibat.

Dalam aksi tersebut, APPBGN mengajukan tiga tuntutan resmi yang dibacakan di depan pintu masuk gedung BGN, yakni:

  1. Pejabat dan tim verifikator BGN yang terlibat dalam praktik curang diminta mundur dari jabatan.
  2. Dilakukannya audit dan pengusutan menyeluruh terhadap dugaan jual beli titik dapur serta transaksi ilegal dalam proses verifikasi mitra.
  3. Pemulihan hak-hak mitra daerah yang dirugikan akibat kebijakan rollback program gizi nasional.

APPBGN juga menuntut BGN memberi klarifikasi serta langkah perbaikan terkait masalah ini.

Dalam kesempatan ini, APPBGN pun menegaskan bahwa kebijakan rollback yang dilakukan BGN telah menyebabkan banyak calon mitra di daerah kehilangan investasi.

Beberapa di antaranya mengaku telah mengeluarkan modal besar antara Rp300 juta hingga Rp1 miliar untuk membangun fasilitas dapur gizi dan membeli peralatan sebelum akhirnya digugurkan secara sepihak.

“Rollback ini tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tapi juga menghambat pelayanan gizi masyarakat di daerah. Kalau sistemnya begini, masyarakat jadi korban. Data yang melapor ke call center kami saja sudah ada sekitar 250 calon mitra,” ujar Yazid.

APPBGN juga meminta Kepala BGN Dadan Hidayana, Wakil Kepala BGN Soni Sanjaya, serta tim verifiktor untuk mundur dari jabatannya

Hingga berita ini disusun, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) belum mengeluarkan pernyataan resmi. Pihak APPBGN sendiri tak diperkenankan untuk masuk ke dalam gedung BGN. (NVR)

By editor2