LEBANON, AKURATNEWS.co – Situasi keamanan di Lebanon selatan kembali memanas setelah tiga anggota pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)/UNFIL tewas dalam rentang 24 jam terakhir.

Dua personel di antaranya meninggal dunia akibat ledakan yang menghantam konvoi UNIFIL pada Senin (30/3), sementara satu personel lainnya gugur sehari sebelumnya dalam insiden terpisah. Ketiganya merupakan personel UNFIL dari Indonesia.

Ledakan terjadi saat konvoi kendaraan PBB bergerak dari satu pangkalan ke pangkalan lain di wilayah selatan Lebanon. Kendaraan terdepan dilaporkan hancur akibat ledakan tersebut, menewaskan dua personel di lokasi dan melukai sejumlah lainnya, termasuk satu korban dengan kondisi kritis.

Insiden ini terjadi di sekitar wilayah Bani Haiyyan, kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik rawan konflik antara militer Israel Defense Forces (IDF) dan kelompok bersenjata Hezbollah yang pro Iran dan kerap meluncurkan serangan ke wilayah Israel.

Pihak PBB menyatakan investigasi masih berlangsung dan belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Baik Israel, Hizbullah, maupun otoritas terkait lainnya belum memberikan pernyataan resmi atas insiden tersebut.

Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras tewasnya seorang personel penjaga perdamaian ini.

Tewasnya anggota TNI yang menjadi personel UNFIL ini dibenarkan  Mabes TNI.

Melalui keterangan Kapuspen TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, pihaknya membenarkan insiden itu menimpa seorang prajurit TNI yang tergabung dalam Kompis C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL.

Korban tewas dalam insiden ledakan proyektil pada Minggu (29/3) adalah Praka Farizal Rhomadhon. Jenazahnya sedang dipersiapkan untuk dipulangkan ke Indonesia dan akan dimakamkan di kampung halamannya, Kulon Progo, Yogyakarta.

Wilayah Lebanon selatan saat ini berada dalam eskalasi konflik yang terus meningkat. Bentrokan antara Israel dan Hizbullah kembali memanas setelah periode gencatan senjata rapuh yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan.

Konflik terbaru ini berakar dari serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel pada 2023, yang disebut sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok Hamas di Gaza.

Serangan tersebut dibalas dengan operasi militer besar-besaran oleh Israel, termasuk serangan udara dan pengerahan pasukan darat ke Lebanon selatan.

Menurut otoritas Lebanon, dampak konflik ini sangat besar. Lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat pertempuran yang terus berlangsung.

Di tengah situasi tersebut, sekitar 10.000 personel United Nations yang tergabung dalam UNIFIL tetap bertugas menjaga stabilitas kawasan. Misi ini telah berlangsung sejak 1978, namun kini menghadapi salah satu periode paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.

By editor2