GARUT, AKURATNEWS.co – Insiden tragis terjadi saat proses pemusnahan amunisi kadaluwarsa di Gudang Pusat Munisi Wilayah III, Kampung Cikuda, Desa Cisurupan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (12/6).

Sebuah ledakan hebat menewaskan sedikitnya 13 orang, terdiri dari empat personel militer dan sembilan warga sipil.

Insiden langsung memicu sorotan luas dari publik, termasuk pertanyaan mengenai standar operasional prosedur (SOP) dan keberadaan warga sipil di sekitar area pemusnahan amunisi yang seharusnya steril dari masyarakat umum.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan, pemusnahan amunisi dilakukan sesuai prosedur sekitar pukul 09.30 WIB oleh prajurit TNI AD dari Pusat Peralatan TNI AD.

“Pada awal kegiatan, telah dilakukan pengecekan terhadap personel dan lokasi peledakan. Semuanya dinyatakan dalam kondisi aman,” ujar Brigjen Wahyu, Senin (12/5).

Dalam prosesnya, amunisi kedaluwarsa dimasukkan ke dalam dua lubang khusus sebagai bagian dari metode penghancuran. Selain dua lubang itu, disiapkan satu lubang tambahan untuk menghancurkan detonator yang telah digunakan. Namun, tiba-tiba, ledakan besar terjadi di lokasi tersebut, yang kemudian menyebabkan banyak korban jiwa.

RSUD Pameungpeuk, rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian menjadi tempat rujukan utama korban. Namun menurut dr. Aziz Akhmad, seluruh korban yang dibawa ke rumah sakit telah dalam keadaan meninggal dunia saat tiba di IGD.

“Semua korban yang kami terima sudah dalam kondisi meninggal. Tidak ada korban luka yang dirawat, baik ringan, sedang, maupun berat,” katanya.

Korban terdiri dari empat anggota militer dan sembilan warga sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Keterlibatan warga sipil dalam insiden ini juga menimbulkan pertanyaan besar. Kapuspen TNI, Mayjen Kristomei Sianturi, menyebut bahwa kehadiran warga di lokasi ledakan didorong oleh praktik lama yang sudah terjadi bertahun-tahun.

“Setelah proses peledakan, masyarakat biasanya mendekat untuk mencari sisa-sisa serpihan logam, tembaga, atau besi dari amunisi yang memiliki nilai jual,” ungkap Kristomei.

Menurutnya, area pemusnahan ini terletak di wilayah milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang sudah biasa digunakan TNI untuk menghancurkan amunisi. Namun, aktivitas pasca-ledakan oleh warga ternyata belum mendapatkan pengawasan ketat.

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, menyampaikan belasungkawa mendalam atas insiden ini dan menegaskan bahwa pihaknya telah memerintahkan investigasi menyeluruh.

“Saat ini proses investigasi tengah berlangsung. Kami pastikan prosedur keamanan akan terus dijalankan dan dievaluasi menyeluruh agar tidak terulang,” kata Sjafrie dalam pernyataan resmi.

Sementara itu, Komisi I DPR juga menyoroti kejadian ini. Mereka mempertanyakan apakah personel TNI keliru dalam memprediksi dampak ledakan dan menekankan pentingnya SOP yang ketat untuk menjaga keselamatan warga sipil.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut menyampaikan belasungkawa atas kejadian memilukan tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Mari bersama kita kirimkan doa, semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Dedi.

Insiden ledakan amunisi di Garut menjadi peringatan keras bagi semua pihak akan pentingnya pengamanan dan pengawasan ekstra ketat dalam proses penghancuran bahan peledak. Kehadiran warga sipil di area berbahaya seperti itu harus menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang. (NVR)

By editor2