JAKARTA, AKURATNEWS.co – Selat Hormuz kembali memanas, kapal kargo milik Korea Selatan dikabarkan mengalami ledakan dan kebakaran.
Pemerintah Korea Selatan mengumumkan akan menyelidiki penyebab ledakan dan kebakaran yang terjadi di kapal yang dioperasikan perusahaan Korea Selatan di Selat Hormuz. Insiden ini oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut sebagai serangan dari Iran.
“Penyebab pasti kecelakaan akan diketahui setelah kapal ditarik dan kerusakannya dinilai,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, dikutip dari Beritasatu, Selasa (6/5/2026).
Kapal kargo berbendera Panama yang dioperasikan perusahaan pelayaran Korea Selatan, HMM, diketahui dalam kondisi kosong dan sedang berlabuh ketika ledakan serta kebakaran terjadi pada Senin (4/5/2026). Pemerintah Korea Selatan memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut dan api telah berhasil dipadamkan. Kapal bernama HMM Namu itu selanjutnya akan ditarik ke pelabuhan terdekat untuk menjalani penilaian kerusakan sekaligus perbaikan.
Juru bicara HMM mengatakan sebanyak 24 awak kapal masih berada di atas kapal kargo umum berbobot 35.000 ton tersebut. Ia menjelaskan kebakaran terjadi di ruang mesin, sementara rekaman kamera pengawas menunjukkan api telah dipadamkan.
Sementara itu, kelompok manajemen risiko maritim asal Inggris, Vanguard, menyebut pihak berwenang akan menyelidiki kemungkinan penyebab kerusakan, termasuk dugaan serangan, ranjau laut yang hanyut, atau benda eksternal lainnya.
Menyusul insiden tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan meminta kapal-kapal Korea Selatan yang berada di Selat Hormuz untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah juga menyatakan tengah berkomunikasi intensif dengan perusahaan pelayaran dan kapal-kapal yang terdampak. Pemerintah Korea Selatan mencatat sedikitnya 26 kapal berbendera Korea Selatan saat ini berada di sekitar Selat Hormuz.
Sebelumnya, melalui unggahannya di platform Truth Social, Trump menuduh Iran telah menembaki kapal dan target lain ketika AS meluncurkan operasi untuk membuka akses pelayaran di Selat Hormuz lewat program bernama Project Freedom. Ia juga menyarankan agar Korea Selatan bergabung dalam upaya memandu kapal-kapal yang terjebak melintasi jalur air strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, yang biasanya digunakan untuk mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Kementerian Pertahanan, dan Kantor Kepresidenan Korea Selatan belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan Trump atas Teheran tersebut./Ib. Foto: Istimewa.
