JAKARTA, AKURATNEWS.co – Film ‘Sosok Ketiga: Lintrik’ siap mengarungi bioskop tanah air.

Ditandai dengan press screening dan gala premier pada Kamis (23/10), film iproduksi Leo Pictures dan disutradarai Fajar Nugros ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 6 November 2025.

Film ini menceritakan Andin (Adinda Thomas) dan Aryo (Wafda Saifan) yang baru menikah enam bulan. Namun, di umur pernikahan mereka yang masih seumur jagung ini, keanehan mulai muncul. Aryo semakin dingin dan jauh, sementara Andin curiga akan kehadiran sosok lain dalam hidup Aryo.

Ternyata, hal itu lantaran Naura (Aulia Sarah) yang menggunakan ilmu lintrik  sebuah kekuatan supranatural dari Jawa untuk memperebutkan Aryo. Ketegangan rumah tangga itu pun berubah menjadi laga antara cinta dan mistisisme.

“Ketika kamu sebagai penonton tertawa, menahan napas, lalu melirik ke sekeliling bioskop karena takut sendirian, maka kami berhasil,” ujar produser eksekutif film ini, Luna Maya.

Ia menambahkan, tujuan film ini bukan sekadar menakut-nakuti, tetapi juga menggugah emosi.

Sementara itu, Adinda Thomas mengenang syuting yang berlangsung ‘panas’ secara atmosfer dan fisik.

“Ada satu adegan di mana saya harus melewati ritual lintrik di tengah hutan malam. Getaran itu nyata, saya bisa merasakan detak jantung saya sendiri,” ujar Adinda.

Sedangkan Wafda Saifan menyebut, bahwa karakter Aryo adalah tantangan besar.

“Pria yang dicintai dua wanita, terjebak antara tanggung jawab dan godaan. Saya harus menggambarkan keretakan emosional dan juga rasa takut terhadap hal yang tidak terlihat,” ucapnya.

“Kami juga ingin film horor ini menjadi pengalaman sosial, bukan hanya di bioskop, tapi setelah keluar, masih dibicarakan teman-temanmu,” imbuh sang sutradara, Fajar Nugros.

Sedangkan Agung Saputra, Produser Leo Pictures ingin menghadirkan film ini sebagai film horor yang bukan sekadar menakut-nakuti, tapi mengandung makna yang lebih dalam.

“Sosok Ketiga: Lintrik adalah perjalanan batin manusia ketika cinta, rasa bersalah, dan kekuatan gelap bersinggungan dalam satu takdir. Dan ini juga karya saya yang lahir dari sebuah perjalanan yang cukup jauh,” ujar Agung.

Film ini sendiri  memiliki tema yang relevan lantaran soal ilmu pelet dan praktik mistik dalam kehidupan sosial Indonesia menyentuh sensitivitas.

Hal inilah yang membuat film dengan tema seperti ini menjadi aspek pendongkrak rating tinggi di mata penonton.

Namun dengan catatan, perlu adanya kedalaman skenario dan twist yang berbeda dari film serupa. (NVR)

By editor2