SEMARANG, AKURATNEWS.co – Dugaan penggunaan politik dinasti yang dilakukan dan dipertontonkan Presiden Jokowi dianggap sebagai pengkhianatan nyata terhadap Reformasi 1998 dan bertentangan dengan agenda Reformasi dalam pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Dengan merestui Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres Prabowo Subianto, Jokowi dipandang sejumlah pihak telah mengkhianati semangat Reformasi 1998, selain mengkhianati konstitusi yang dilahirkan dari semangat anti KKN.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Rembug Malam Reboan yang diadakan aktivis Pejuang Perubahan yang juga dihadiri Juru bicara Tim Pemenangan Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN), Hasreiza atau lebih dikenal dengan Reiza Patters sebagai pembicara di Markas Rumah Pejuang Perubahan Semarang (5/12).

Dalam kegiatan bertajuk ‘Membincang Politik Dinasti’ tersebut, Reiza menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo saat ini sedang mempraktikkan apa yang disebut sebagai Politik Dinasti secara sempurna.

“Bagaimana tidak? Presiden Jokowi dengan kekuasaan dan pengaruhnya sebagai Kepala Pemerintahan tertinggi dianggap telah melancarkan jalan anaknya sendiri untuk menjadi calon wakil Presiden di saat dirinya masih menjabat. Disaksikan secara langsung oleh rakyat negeri ini, banyak pihak mengatakan bahwa dirinya mengupayakan perubahan aturan di Mahkamah Konstitusi(MK) dengan bantuan adik iparnya sendiri yang saat itu menjabat sebagai Ketua MK,” ujarnya.

Dia juga mengatakan sebelumnya, hal ini dilakukan Presiden saat anaknya tersebut menjadi Walikota Solo dan menantunya menjadi Walikota Medan.

“Presiden membangun dinasti politiknya saat dia mendorong anaknya itu menjadi Walikota Solo dan menantunya menjadi Walikota Medan. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa keduanya mendapatkan rekomendasi partai pengusung dan memenangkan pilkada, tanpa pengaruh Pak Jokowi sebagai Presiden yang sedang menjabat,” tuturnya.

Untuk itu Reiza berharap, rakyat sebagai pemilih dan pemilik suara dalam pemilu bisa lebih bijak dalam menentukan pilihannya terhadap siapa yang mereka pilih untuk menjadi pemimpin bangsa ini 5 tahun ke depan.

“Silahkan rakyat menilai dan menentukan pilihannya dalam pemungutan suara Pilpres di Februari 2024 nanti. Apakah akan membiarkan dinasti politik ini melenggang dan menjadi penguasa seperti yang pasti diharapkan oleh Presiden Jokowi atau memilih dan memenangkan pasangan calon yang lain. Saya mendorong dan sedikit memaksa rakyat untuk memilih Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar agar agenda perubahan Indonesia menjadi lebih baik yang mereka berdua usung bisa terwujud,” kata Reiza.

Kegiatan diskusi tersebut dihadiri puluhan perwakilan berbagai jaringan relawan AMIN, calon legislatif Kota Semarang, Kabupaten di sekitarnya dan juga sejumlah anggota DPR. (NVR)

By Editor1