LONDON, AKURATNEWS.co – Hasil Pemilihan Umum (Pemilu) Inggris yang digelar Kamis (4/7) waktu setempat telah diumumkan. Dan hasilnya, Perdana Menteri (PM) Inggris, Rishi Sunak kalah telak. Partai Buruh pun berhasil mengamankan 326 dari 660 kursi di parlemen dalam pemungutan suara.

Atas hasil ini, Sunak pun mengakui kekalahan dan memberi ucapan ke Ketua Partai Buruh, Keir Starmer.

“Partai Buruh telah memenangkan pemilihan umum ini, dan saya menelepon Keir Starmer untuk mengucapkan selamat atas kemenangan dia,” kata Sunak seperti dilansir dari AFP, Jumat (5/7).

“Hari ini, kekuasaan akan berpindah tangan secara damai dan tertib dengan itikad baik dari semua pihak,” imbuhnya.

Sunak juga menekankan akan bertanggung jawab atas kekalahan Partai Konservatif dan akan mengajukan pengunduran diri ke Raja Charles III.  Dimana Raja Charles III kemudian meminta Starmer, sebagai pemimpin partai terbesar di parlemen, untuk membentuk pemerintahan.

Sebelumnya, beberapa jajak pendapat sempat memprediksi partai pimpinan Starmer meraup sekitar 400 dari total kursi parlemen. Semua surat kabar Inggris juga fokus ke Partai Buruh yang kembali ke tampuk kekuasaan pertama kali sejak Gordon Brown dilengserkan David Cameron pada 2010.

Starmer sendiri menjadi ketua Partai Buruh pada 2020, tak lama setelah partai mengalami kekalahan buruk dalam 85 tahun. Saat diangkat menjadi ketua, dia berambisi agar Partai Buruh layak dipilih dan memerintah Inggris. Empat tahun berselang, misi dia sukses.

Sebelum itu, Starmer kerap menghadapi kritik karena dianggap tak karismatik dan berbagai kebijakan di partai. Beberapa anggota partai menganggap Starmer membelokkan organisasi, yang berhaluan kiri, ke arah sentrisme atau tengah. Starmer bahkan pernah memecat anggota yang berkomentar penyelidikan soal antisemitisme di partai dilebih-lebihkan.

Dia juga membuat banyak orang kesal karena menarik kembali beberapa janji utama, seperti rencana menaikkan pajak penghasilan, menghapus biaya kuliah universitas, dan menasionalisasi sebagian besar layanan publik Inggris.

Starmer juga panen kecaman karena perubahan janji investasi hijau dengan nilai lebih dari U$35 miliar atau sekitar Rp570 triliun setiap tahun, dan dukungan terhadap agresi Israel di Gaza.

Di masa mendatang, Starmer diprediksi akan menghadapi sejumlah masalah saat memimpin Inggris. Beberapa di antaranya pertumbuhan ekonomi yang lesu, pelayanan publik yang kewalahan dan kekurangan dana karena pemotongan anggaran besar-besaran, dan tekanan finansial. (NVR)

By Editor1