JAKARTA, AKURATNEWS.co – Agama selalu menjadi wilayah yang harus dipijak dengan hati-hati.
Meski begitu, film ‘Air Mata Mualaf’ mencoba masuk ke dalam ruang sunyi itu, menyoroti perjalanan spiritual beserta konflik seorang mualaf yang muncul di keluarga.
Dalam peluncuran poster dan trailer film ini di Jakarta, Senin (27/10), Acha Septriasa, pemeran Anggie, tokoh utama dalam film ini tak menutupi kebimbangannya saat pertama kali membaca skenario.
Menurutnya, isu mualaf mengandung tantangan karena menyangkut identitas dan keyakinan seseorang.
“Skrip ini terlihat dari luarnya tuh kayaknya sulit untuk dimainkan ya. Kayaknya agak sensitif, terus ruangnya tuh kayak sempit,” ujar aktris yang pernah meraih Piala Citra ini.
Ia menyadari setiap gerakan dan kalimat karakter memiliki risiko salah tafsir.
“Gimana nih, mau ke kanan atau mau ke kiri. Kayak lumayan, mau berani juga takutnya malah menyentuh area yang nggak seharusnya,” lanjut Acha menggambarkan rasa takut sekaligus tekad untuk menghadirkan emosi yang tulus dari seorang mualaf.
Meskipun film ini mencoba menggambarkan perjalanan konversi ke Islam dengan halus, beberapa pihak mungkin saja akan menganggap narasinya menyederhanakan pengalaman mualaf di dunia nyata.
Namun tim produksi mengaku memilih fokus pada ruang emosional dalam konflik keluarga sebagai fokus utama.
Dijelaskan Dewi Irawan, yang memerankan ibu dari Anggie, dirinya justru menemukan kedekatan personal dalam latar cerita tersebut.
“Saya punya anak perempuan, dan ketika membaca naskahnya, saya langsung merasa dekat dengan cerita ini. Suatu saat nanti, mungkin anak saya juga akan membuat pilihan yang berbeda dari saya,” ucap Dewi.
Menurutnya, peran seorang ibu dalam film ini bukan hanya soal menerima agama yang baru, tetapi juga tentang merelakan sang anak menemukan jalannya sendiri.
“Itu bukan hanya soal agama, tapi soal bagaimana setiap anak mencari jati dirinya sendiri. ‘Air Mata Mualaf’ mengingatkan saya bahwa cinta seorang ibu juga berarti belajar menerima. Pokoknya, ibu-ibu harus nonton deh film ini,” tambahnya.
Asman Al Idrus, pemeran Sayyid yang menjadi pendamping spiritual Anggie, melihat film ini sebagai sarana berdialog dengan hati penonton.
“Tema agama memang sensitif, tapi film ini justru menampilkan sisi hangat dari perbedaan dan cara kita menghadapi cobaan,” kata Asman seraya menekankan bahwa film ini juga mengajak orang untuk saling memahami tanpa menggurui.
Ia berharap ‘Air Mata Mualaf’ bisa memperlihatkan bahwa setiap manusia memiliki pergulatannya sendiri dalam mencari kedamaian.
Film ini mengisahkan Anggie, seorang wanita Indonesia yang tinggal dan sekolah di Australia.
Ia menjadi korban kekerasan yang dilakukan kekasihnya Ethan di Sydney. Suatu hari, Anggie memutuskan meninggalkan Ethan setelah hidupnya terpuruk.
Dalam kondisi tak sadarkan diri dan terluka, ia jatuh di depan sebuah masjid dan diselamatkan seorang gadis pengurus masjid.
Kebaikan hati gadis itu menyentuh Anggie, terlebih saat ia mendengar lantunan ayat suci Al- Qu’ an dari sang gadis itu. Sejak saat itu, Anggie meminta untuk diajarkan tentang Islam.
Keputusan Anggie memeluk Islam menjadi titik balik hidupnya. Namun di saat itu, ia harus menghadapi penolakan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.
‘Air Mata Mualaf’ sendiri akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 November 2025, disusul rilis di Asia Tenggara dan Timur Tengah pada awal Desember 2025. (NVR)
