JAKARTA, AKURATNEWS.co – Industri film Indonesia lagi-lagi cari jalur baru. Di saat layar lebar masih dipenuhi arwah penasaran dan rumah tua berdebu, ‘Lift’ datang dengan konsep yang beda: no setan, no jumpscare murahan.

Cuma di satu lokasi dominan yakni sebuah lift, satu suara misterius dari interkom bisa bikin jantung auto deg-degan. Setidaknya hal itu yang tergambar saat juri Festival Film Horor (FFH) menonton film ini, Minggu (1/3).

Diproduksi Trois Entertainment, film ini coba mengajak penonton masuk ke ruang paling sempit, kabin lift macet yang berubah jadi arena permainan psikologis penuh tekanan.

Konsepnya sekilas ngingetin ke ‘Phone Booth’, film Hollywood yang ngebuktiin satu lokasi bisa tetap bikin tegang maksimal. Bedanya, ‘Lift’ membawa konflik korporasi dan trauma masa lalu ke dalam ruang 2×2 meter yang literally bikin sesak.

Dan ini bukan sekadar soal lift rusak. Tapi sebuah cerita berakar dari kematian Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land, enam tahun silam.

Kasusnya jadi noda yang seolah sudah dilupakan. Tapi masa lalu, seperti biasa, nggak pernah benar-benar mati.

Kini, Hansen (Verdi Solaiman), direktur baru perusahaan, tiba-tiba menghilang. Di tengah kekacauan itu, Linda (Ismi Melinda), staf humas perusahaan, terjebak di lift bersama Anton (Max Metino), mantan jurnalis yang banting setir jadi podcaster.

Situasi awalnya terlihat seperti insiden teknis biasa. Sampai suara asing muncul dari interkom. Suara itu tahu terlalu banyak. Dan dia nggak cuma mengancam, dia mendikte.

Plot makin panas ketika Linda tahu anaknya, Jonathan disandera. Sementara di luar gedung, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor tengah malam.

Premisnya? Solid. Potensi twist? Banyak. Taruhannya? Nyawa dan rahasia perusahaan.

Sebagai thriller satu lokasi, ‘Lift’ sebenarnya punya modal kuat: ruang sempit dengan tekanan maksimal. Metaforanya jelas, terjebak bukan cuma secara fisik, tapi juga moral dan emosional.

Masalahnya, film ini terasa pengen ngomong terlalu banyak sekaligus.
Isu korupsi, trauma masa lalu, manipulasi media, moralitas, sampai rasa bersalah, semuanya masuk.

Tapi nggak semuanya digali dalam. Alur maju-mundur yang harusnya bikin penasaran justru di beberapa titik terasa bikin bingung.

Alih-alih bikin penonton “wah, plot twist!”, ada momen di mana kita malah sibuk nyusun ulang puzzle yang potongannya nggak selalu klik.

Dialognya pun kadang terlalu puitis untuk situasi genting. Bayangin lagi panik, anak disandera, tapi masih sempat ngomong metafora ala caption Instagram. Agak kurang natural, meski niatnya mungkin ingin terdengar filosofis.

Nama Shareefa Daanish jelas bikin ekspektasi naik. Dia dikenal selalu total dan intens serta spesialis horor misteri. Tapi karakter Doris di sini terasa belum dikasih ruang cukup buat meledak.

Verdi Solaiman sendiri tampil meyakinkan di porsi yang tersedia. Ismi Melinda dan Max Metino jadi tulang punggung dinamika di dalam lift. Chemistry mereka cukup terasa, meski beberapa adegan dialog membuat tensi naik-turun nggak stabil.

Teuku Rifnu Wikana, yang biasanya punya aura kuat banget di layar, sayangnya cuma dapat porsi singkat dengan kurangnya detil latar belakang. Padahal potensinya bisa bikin konflik makin tajam.

Yang patut diapresiasi, ‘Lift’ berani keluar dari pakem horor mainstream Indonesia. Ini bukan soal makhluk tak kasat mata, tapi soal rasa bersalah, rahasia gelap, dan manipulasi psikologis.

Beberapa momen komedi yang disisipkan untuk mencairkan suasana sayangnya nggak selalu pas timing-nya. Alih-alih jadi relief, kadang justru memecah atmosfer tegang yang sudah terbangun.

Tapi satu hal yang nggak bisa dipungkiri: respons penonton cukup tinggi. Sejak tayang 26 Februari 2026, tiket pemutaran awal dilaporkan ludes dalam hitungan jam. Strategi harga Rp10.000 untuk hari Senin–Selasa lewat platform tiket online juga sukses menarik rasa penasaran publik.

Dan di era sekarang, ketika film bisa viral bukan cuma karena kualitas tapi juga diskusi, Lift berhasil bikin orang ngomong.

‘Lift’ adalah film dengan ide kuat dan niat serius untuk beda. Ia mencoba membuktikan bahwa teror nggak selalu harus berbentuk hantu. Kadang, suara anonim dan rahasia lama sudah cukup bikin malam terasa panjang.

Sayangnya, eksekusinya belum sepenuhnya mendarat mulus. Seperti lift yang berhenti di antara lantai, film ini terasa masih menggantung di titik klimaks emosionalnya.

Tapi buat kamu yang bosan sama horor template dan pengin ngerasain thriller psikologis yang lebih sunyi, Lift tetap layak dicoba.

Sekarang pertanyaannya cuma satu.
Kalau terjebak di dalam lift dengan masa lalu yang belum selesai, kamu bakal tekan tombol apa dulu, panik atau jujur? (NVR)

By editor2