JAKARTA, AKURATNEWS.co – Perjalanan panjang menuju ekosistem musik yang lebih sehat di Indonesia kini memasuki babak baru. Empat platform digital karya anak bangsa yang digagas oleh VNT Networks melalui unit inovasinya, Velodiva, telah selesai dibangun dan siap digunakan.

Namun, sebelum sistem ini benar-benar dapat mengubah tata kelola musik nasional, dukungan dan atensi dari pemerintah pusat menjadi langkah yang paling ditunggu.

Vedy Eriyanto, pendiri sekaligus Ceo VNT Networks, menegaskan bahwa seluruh sistem ini lahir sebagai jawaban atas kebutuhan nyata dunia usaha sekaligus musisi.

“Kami sudah buktikan teknologi ini berjalan, bahkan sudah dipakai oleh ratusan pelaku usaha. Tinggal satu hal yang kami harapkan: adanya atensi nasional agar sistem ini diakui dan digunakan secara luas,” ucapnya penuh keyakinan.

Empat Platform, Satu Tujuan
Keempat platform yang dimaksud adalah Velodiva, Velostage, Sistem Manajemen Royalti (SILM), dan Gerbang Musik (PDLM). Semuanya dirancang dengan mengacu pada PP Nomor 56 Tahun 2021 yang mengatur tata cara penghimpunan, pengolahan, serta distribusi royalti musik.

“Jika regulasi ini dibaca detail, sebenarnya visi pemerintah sudah sangat maju. Tantangannya ada pada penerjemahan ke bentuk sistem yang praktis dan efisien. Di sinilah kami hadir, membangun teknologi yang menjawab kebutuhan regulasi sekaligus memudahkan pelaku usaha,” jelas Vedy.

Yang membanggakan, seluruh infrastruktur ini dibangun tanpa campur tangan asing. Mulai dari desain, server, hingga perangkat lunak dikembangkan sendiri oleh tim Indonesia.

Velodiva: Teknologi layanan musik untuk komersial
Dari semua platform, Velodiva menjadi yang paling cepat dikenal publik. Layanan ini adalah pemutar musik berbasis streaming yang dirancang khusus untuk kebutuhan komersial, mulai dari hotel, restoran, pusat perbelanjaan, hingga bar dan klub malam.

Dengan integrasi langsung ke sistem LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional), pengguna tidak perlu lagi repot mencatat penggunaan musik secara manual. Semua pelaporan dilakukan otomatis, real-time, dan tercatat rapi sebagai dasar distribusi royalti.

Salah satu fitur yang banyak diapresiasi adalah Multizone, yang memungkinkan pengelola bisnis mengatur musik di area berbeda – lobi, restoran, kolam renang, atau gym – hanya melalui satu dashboard.

Playlist juga dapat dijadwalkan sesuai jam operasional, bahkan ditambahkan jingle promosi yang bisa disiarkan serentak ke semua outlet.

“Musik yang tepat menghidupkan suasana bisnis, membangun brand image, dan mendorong perilaku pembelian. Velodiva hadir untuk memastikan semua itu dilakukan secara legal dan menguntungkan kedua belah pihak: pemilik usaha dan musisi,” ujar Vedy.

Velostage: Platform live event yang terintegrasi
Tak hanya untuk pemutar musik untuk komersial, VNT Networks juga menaruh perhatian pada sektor pertunjukan langsung melalui Velostage. Platform ini memungkinkan semua pihak yang terlibat dalam konser, seminar, pameran, atau pesta pernikahan mencatat setiap lagu yang diputar.

Data ini kemudian digunakan sebagai dasar pelaporan ke LMKN. Dengan begitu, musisi, pencipta lagu, dan pemegang hak cipta lainnya tetap memperoleh haknya meski karya mereka digunakan di acara non-rutin.

“Selama ini, musik live sering jadi area abu-abu. Banyak karya dimainkan, tapi tidak terdokumentasi dengan baik. Velostage menutup celah itu, bahkan kami rancang terintegrasi dengan sistem perizinan acara dan penjualan tiket,” terang Vedy.

Dari Keluhan Usaha ke Inovasi Nasional
Gagasan membangun sistem ini berawal dari keluhan banyak pelaku usaha. Pengguna ingin menggunakan musik secara legal dan mudah, tapi kesulitan dengan proses lisensi yang rumit dan pencatatan manual yang menyita waktu. Dari sisi musisi, masalah serupa juga muncul: royalti yang diterima sering tidak sesuai dengan penggunaan sebenarnya.

“Ada ketidakadilan yang bertahun-tahun terjadi. Kami berpikir, mengapa tidak dibangun sistem yang bisa mendamaikan kedua belah pihak? Dari situlah semangat ini lahir,” tutur Vedy.

Pengalaman VNT Networks sebelumnya di dunia digital menjadi modal utama. Perusahaan ini telah mengembangkan layanan seperti Nomaden TV untuk kebutuhan hotel dan rumah sakit. Fondasi infrastruktur streaming itu yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi empat platform pengelolaan royalti musik.

Menanti Dukungan Pemerintah
Meski sudah terbukti berjalan di lapangan, legitimasi dari pemerintah tetap menjadi kunci agar sistem ini dapat berlaku nasional. Tanpa dukungan penuh itu, inovasi hanya akan berhenti sebagai solusi parsial.

“Kami tidak bisa melangkah sendirian. Atensi pemerintah sangat dibutuhkan agar sistem ini menjadi standar nasional. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal keadilan bagi musisi dan kepastian hukum bagi pelaku usaha,” tegas Vedy.

Harapan Besar untuk Ekosistem Musik
Dengan hadirnya Velodiva, Velostage, SILM, dan PDLM, VNT Networks tidak hanya menawarkan solusi teknis. Lebih dari itu, mereka ingin membangun ekosistem musik yang lebih sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan.

“Royalti bukan sekadar angka. Ia adalah penghargaan bagi karya, darah bagi industri musik, dan fondasi bagi kreativitas yang terus tumbuh. Jika sistem ini diberi ruang untuk dijalankan nasional, dampaknya akan terasa jauh melampaui industri musik – bisa memperkuat ekonomi kreatif Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Vedy./Ib.

By Editor1