DEN HAAG, AKURATNEWS.co – Upaya penangkapan terhadap Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Yoav Gallant resmi diajukan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada Senin (20/5).

Jaksa penuntut dari ICC, Karim AA Khan resmi mengumumkan perintah penangkapan tersebut.

“Saat ini saya telah mengajukan berkas untuk perintah penangkapan sebelum Pra-Sidang I di Pengadilan Kriminal Internasional terkait situasi Palestina,” demikian keterangan Karim Khan dalam situs resmi ICC.

“Atas dasar bukti-bukti yang dikumpulkan dan telah diuji oleh tim saya, saya punya alasan kuat yang meyakini bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, bertanggung jawab atas sejumlah kejahatan perang terhadap kemanusiaan di teritori Negara Palestina (Jalur Gaza) sejak 8 Oktober 2023,” tandasnya.

Ia pun  kemudian menjabarkan tujuh poin terkait kejahatan perang yang dilakukan Netanyahu dan Yoav Gallant.

Belakangan hari ini, Israel kian menggila dengan menambah pasukan darat untuk menyerbu Rafah di Jalur Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant mengonfirmasi penambahan pasukan itu saat invasi di Rafah semakin brutal.

“(Operasi) akan berlanjut ketika pasukan tambahan memasuki Rafah,” kata Gallant, Kamis (16/5) seperti dilansir AFP.

Gallant juga membeberkan sederet yang dia anggap pencapaian pasukan Israel di Gaza. Pertama, beberapa terowongan, berhasil dihancurkan tentara Israel. Kedua, Gallant juga mengklaim pasukan Zionis menyerang ratusan target di Rafah.

“Aktivitas ini akan meningkat,” ujar Gallant.

Israel mengklaim menyerang habis-habisan Rafah karena wilayah itu menjadi benteng pertahanan Hamas. Mereka ingin memusnahkan kelompok perlawanan itu dari Palestina ini.

Serangan Israel ke Rafah memicu kecaman dari komunitas dan organisasi internasional. Mereka menyebut invasi itu kian memperburuk situasi di Gaza dan memperluas bencana kemanusiaan. Invasi Israel di Rafah terjadi di tengah agresi mereka ke Gaza sejak Oktober 2023. Agresi ini menyebabkan lebih dari 35.000 warga di Palestina meninggal dan ratusan ribu rumah hancur. (NVR)

By Editor1