JAKARTA, AKURATNEWS.co – Timnas Indonesia segera mendapatkan suntikan tenaga baru dengan bergabungnya dua pemain keturunan, Mees Hilgers dan Eliano Reijnders ke dalam skuad. Keduanya, yang saat ini bermain di liga top Eropa diharapkan bisa memperkuat skuad Garuda dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.

Mees Hilgers, yang bermain sebagai bek FC Twente di Eredivisie dikenal sebagai pemain bertahan yang kuat dan cerdas dalam membaca permainan. Di usianya yang masih muda (22 tahun), Hilgers sudah menunjukkan kemampuan mumpuni di level kompetisi Eropa. Sementara itu, Eliano Reijnders, saudara kandung Tijjani Reijnders yang bermain untuk Timnas Belanda dan AC Milan adalah gelandang yang piawai dalam menjaga ritme permainan dan memiliki visi yang tajam.

Kehadiran mereka di Timnas Indonesia memberikan potensi besar, terutama dalam meningkatkan kualitas pertahanan dan permainan di lini tengah. Hilgers bisa menjadi sosok tangguh yang memperkokoh pertahanan Garuda, mengingat Indonesia masih sering mengalami masalah di sektor ini. Reijnders, di sisi lain, dapat menjadi solusi untuk lini tengah yang kreatif, mengingat ia memiliki kemampuan distribusi bola yang baik serta teknik mumpuni dalam mengendalikan tempo permainan.

Salah satu kelemahan Indonesia selama ini adalah inkonsistensi di lini pertahanan, terutama saat menghadapi tim-tim yang lebih agresif dan cepat. Hilgers, dengan pengalamannya di Eredivisie, dapat menjadi bek tengah yang diandalkan. Sementara itu, Reijnders, sebagai gelandang, bisa memberikan kontrol lebih baik di lini tengah yang sering kurang kreatif dalam membangun serangan.

Bermain di liga-liga top Eropa memberikan kedua pemain ini mentalitas kompetitif yang tinggi. Mereka terbiasa menghadapi pemain-pemain terbaik dunia, dan hal ini bisa membantu Indonesia dalam menghadapi tim-tim kuat di Asia. Pengalaman ini juga bisa ditularkan ke pemain-pemain lain, baik dalam pertandingan maupun di sesi latihan.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dicermati terkait integrasi Hilgers dan Reijnders ke dalam Timnas Indonesia. Meski memiliki kualitas yang tidak diragukan, proses adaptasi Hilgers dan Reijnders ke sepakbola Indonesia mungkin tidak  berjalan mulus.

Keduanya belum pernah bermain di level kompetisi Asia, yang memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi kecepatan permainan maupun kondisi fisik. Tantangan terbesar adalah bagaimana mereka bisa cepat beradaptasi dengan rekan satu tim dan gaya permainan yang diterapkan pelatih Shin Tae-yong.

Sebagai pemain keturunan yang diharapkan menjadi pilar baru, Hilgers dan Reijnders juga akan menghadapi ekspektasi besar dari publik dan media. Tekanan ini bisa menjadi bumerang jika mereka tidak bisa segera menunjukkan performa gemilang. Pemain seperti Jordi Amat dan Sandy Walsh pernah mengalami situasi serupa, di mana ekspektasi tinggi sempat membebani performa mereka di lapangan.

Meski memiliki kemampuan individu yang tinggi, koordinasi dengan pemain lokal bisa menjadi kendala. Hilgers dan Reijnders juga harus bisa memahami budaya dan dinamika permainan yang sudah ada di Timnas Indonesia. Hal ini memerlukan waktu dan komitmen penuh, terutama di saat jadwal pertandingan internasional semakin padat. (NVR)

By Editor1