BEKASI, AKURATNEWS.co – Indonesia kembali menunjukkan kepedulian terhadap Palestina melalui program bantuan kemanusiaan berupa pengiriman seribu ton ubi ke negara yang tengah dilanda krisis tersebut.

Dalam acara Mukkayyam dan Hadis yang diadakan di Pondok Pesantren Nuur Waar, Bekasi, Jumat (13/9), Presiden AFKN, KH MZ Fadzlan Rabbany Garamatan mengingatkan pentingnya kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan Palestina.

KH. Fadzlan menegaskan, bangsa Indonesia, yang pernah merasakan pahitnya penjajahan, harus terpanggil untuk membantu saudara-saudara di Palestina yang hak dasarnya sebagai manusia terus direnggut.

Mengutip Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ia mengatakan, “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Dalam kesempatan tersebut, KH  Fadzlan juga mengumumkan program pengiriman seribu ton ubi yang tidak hanya membantu rakyat Palestina, tetapi juga memberdayakan para petani di Indonesia.

“Menanam ubi cukup dengan lahan 10 meter persegi dan bisa panen dalam waktu tiga bulan. Ini sangat menguntungkan baik bagi petani Indonesia maupun rakyat Palestina,” ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar, yaitu pengiriman 10 ribu umbi-umbian ke Palestina. Menurut KH. Fadzlan, jika berhasil, program ini akan membangun potensi pangan pedesaan Indonesia dan memberikan manfaat bagi rakyat Palestina yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang kekerasan dan ketidakadilan.

“Ubi adalah tanaman yang cepat panen, aman, berkarbohidrat tinggi, dan nutrisinya sangat baik. Pengiriman ubi ke Palestina menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, terutama saat Ramadhan 2025 nanti,” tambahnya.

Pengiriman tahap pertama direncanakan pada Maret 2025 melalui Pelabuhan Tanjung Priok, dengan estimasi waktu perjalanan 11-12 hari.

Selain bantuan pangan, Presiden Global Moeslim Charity (GMC), Ahyudin turut memberikan pandangan tentang pentingnya kolaborasi dalam pengiriman bantuan. Ahyudin berharap TNI dapat meminjamkan kapal perang untuk memperlancar proses pengiriman ubi ke Palestina.

“Kami berharap TNI bersedia membantu agar pengiriman lebih efisien dan biaya operasional bisa ditekan,” jelasnya.

Menurut Ahyudin, program seribu  ton ubi merupakan bentuk diplomasi kemanusiaan yang luar biasa. Selain memberdayakan petani Indonesia, survei menunjukkan bahwa ubi-umbian adalah salah satu makanan pokok yang dikonsumsi rakyat Palestina. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan sehari-hari mereka.

Proses penanaman ubi telah dimulai di beberapa wilayah Indonesia, termasuk di Kuningan dan Cirebon, Jawa Barat. Relawan Pangan Indonesia-Palestina bekerja sama dengan sekitar 100 petani untuk penanaman massal ubi jalar di lahan seluas 50 hektar. Program ini diharapkan berkembang hingga melibatkan 300 petani untuk mengejar target pengiriman tahap pertama pada Februari 2025.

KH Fadzlan juga menegaskan bahwa program ini bukan hanya inisiatif Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), tetapi adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia.

“Kita bergerak bukan karena kita kuat, tapi karena kita peduli. Ini adalah tanggung jawab moral kita sebagai bangsa yang menjunjung nilai kemanusiaan,” pungkasnya.

Melalui program ini, Indonesia tidak hanya membantu Palestina dalam krisis kemanusiaan, tetapi juga memperkuat potensi pertanian lokal, sehingga memberikan manfaat ganda bagi kedua negara. Program bantuan ubi ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi simbol solidaritas bangsa Indonesia dalam mendukung perdamaian dan keadilan di Palestina. (NVR)

By Editor1