JAKARTA, AKURATNEWS.co – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama sekitar 50 negara telah mengeluarkan peringatan serius terkait meningkatnya skala dan frekuensi serangan ransomware yang menargetkan sektor kesehatan.
Dalam pertemuan PBB, disampaikan bahwa serangan ini tidak hanya mengganggu layanan kesehatan tetapi juga berpotensi menimbulkan ancaman langsung terhadap keselamatan publik. WHO menekankan pentingnya kerja sama global untuk menghadapi kejahatan siber yang semakin canggih.
Kasus serangan ransomware di Rumah Sakit Armentières, Prancis, pada Februari 2024, yang memaksa unit gawat darurat ditutup selama 24 jam, menjadi salah satu contoh nyata dampaknya. Tidak hanya itu, jaringan Rumah Sakit Ascension di Amerika Serikat juga mengalami gangguan serupa pada Mei 2024, memengaruhi operasional 142 cabangnya.
Di Indonesia, ancaman ini juga nyata. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hampir 70 persen rumah sakit di Indonesia pernah mengalami insiden siber dalam setahun terakhir. Pada 2022, sebanyak 720GB data dari berbagai rumah sakit dilaporkan bocor.
Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber di sektor kesehatan, termasuk serangan ransomware WannaCry pada 2017 dan kebocoran data Covid-19 dari aplikasi Health Alert Card (eHAC).
Pemerintah Indonesia melalui Permenkes No. 75 Tahun 2019 telah menetapkan standar akreditasi rumah sakit yang mencakup keamanan digital dan perlindungan data pasien. Namun, implementasi standar ini masih memerlukan perhatian lebih, terutama dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kemampuan sektor kesehatan, PT ITSEC Asia Tbk bekerja sama dengan Perkumpulan Tenaga Informatika Rumah Sakit (PETIRS) mengadakan workshop bertajuk ‘Securing Your Assets in the Healthcare Industry 2024’. Acara ini dirancang untuk membekali para profesional TI, manajemen, serta tenaga klinis dengan pengetahuan dan strategi menghadapi ancaman keamanan siber.
Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Joseph Lumban Gaol, menegaskan pentingnya penguatan infrastruktur keamanan digital di sektor kesehatan.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber, kami memahami peran vital rumah sakit dalam masyarakat. Forum ini menjadi wadah untuk meningkatkan struktur keamanan informasi dan menghadapi tantangan di era digital,” ujar Joseph, Kamis (14/11).
Sesi diskusi membahas strategi seperti penerapan kerangka kerja zero-trust, pengawasan keamanan jaringan, perlindungan perangkat lunak, hingga manajemen risiko.
Ditambahkan Kepala R&D ITSEC Asia, M Rasyid Sahputra, pentingnya mengadopsi sistem deteksi ancaman yang lebih canggih.
“Serangan berbasis digital terus berevolusi. Rumah sakit harus meningkatkan kewaspadaan, mengadopsi teknologi terkini, dan memantau jaringan secara berkelanjutan,” jelas Rasyid.
Dijelaskannya, ancaman siber di sektor kesehatan terus meningkat, memerlukan langkah cepat dan terkoordinasi dari pemerintah, organisasi kesehatan, dan pelaku industri. Dengan memanfaatkan teknologi canggih dan kolaborasi global, diharapkan keamanan digital di sektor kesehatan dapat ditingkatkan demi melindungi data pasien dan kelangsungan layanan kesehatan.
Oleh karenanya, bagi rumah sakit dan pelaku industri kesehatan, investasi dalam infrastruktur keamanan digital kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Penerapan cyber security sedndiri mutlak dilakukan saat ini. Pasalnya, berdasarkan data tahun lalu landscape keamanan cyber yang dirilis BSSN itu ada 403 juta anomali trafik yang terjadi di Indonesia.
Dalam waktu dekat, PT ITSEC Asia Tbk akan juga menggelar rangkaian roadshow menuju ITSEC Asia Cybersecurity Summit 2025.
“Rencananya dilaksanakan September 2025. Jadi acara Community Workshop ini semacam rangkaian yang kita buat. Sebenarnya lebih spesifik untuk community workshop jadi konsepnya. Dan kita menyasar segmentasi atau industri-industri tertentu. Untuk yang acara pertama ini industrinya adalah industri kesehatan,” beber Senior Business Consultant PT ITSEC Asia Tbk, Aldy Rizaldy. (NVR)
