DENPASSAR, AKURATNEWS.co – Sesuai dengan namanya, pulau Dewata yang selama ini dikenal sebagai surga wisata dunia yang dikenal dengan keramahan dan kearifan lokal kini menghadapi tantangan serius.
Tantangan tersebut datang bukan dari masyarakat Bali itu sendiri yang dikenal selama ini selalu menjunjung tinggki kearifan lokal, tetapi justru datang dari para pelancong atau turis.
Belakangan perilaku turis asing yang makin tak terkendali menjadi sorotan tajam, baik di media massa maupun media sosial. Masyarakat lokal dibuat resah oleh ulah wisatawan yang tak segan melakukan pelanggaran hukum hingga tindakan tak pantas di ruang publik, atau bahkan kekerasan.
Fenomena tersebut tak hanya terjadi di kawasan wisata, tapi juga di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kadek Duk, seorang pramuwisata lokal, mengaku kerap menyaksikan langsung praktik “turis jemput turis”.
“Sering kami lihat turis asing menjemput rekannya di area kedatangan internasional. Tapi kami bingung mau menegur, takutnya malah ribut,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ben, pemandu wisata khusus tamu Eropa, menyampaikan keresahannya. Menurutnya, turis yang datang bukan hanya menjemput, tapi juga bertindak sebagai sopir taksi online tanpa izin. Hal ini memicu ketidakadilan di kalangan sopir lokal dan pemandu wisata resmi.
Praktik ilegal tersebut tak hanya mengganggu ekosistem pariwisata, tapi juga memperparah kemacetan di sekitar bandara. Banyak kendaraan pribadi parkir sembarangan karena minimnya pengawasan aparat lalu lintas. “Polisi jarang terlihat di sana, padahal lalu lintas makin kacau,” tambah Ben.
Selain di bandara, perilaku menyimpang turis asing juga mulai banyak terjadi di berbagai wilayah wisata Bali. Mulai dari pelanggaran adat, bertindak kasar kepada warga, hingga kasus kriminal yang ditangani aparat kepolisian. Hal ini mencoreng citra Bali sebagai destinasi yang menjunjung nilai budaya dan ketertiban.
Masyarakat dan pelaku pariwisata mendesak pemerintah daerah dan aparat berwenang untuk bertindak tegas. Penegakan hukum dan pengawasan ketat dinilai perlu dilakukan demi menjaga martabat Bali sebagai tujuan wisata kelas dunia sekaligus melindungi kepentingan warga lokal./Ib.

