JAKARTA, AKURATNEWS.co – Tren kasus stroke di usia muda termasuk anak-anak di Indonesia semakin menunjukan peningkatan dan mengkhawatirkan.

Menyikapi hal ini, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta resmi meluncurkan Pusat Moyamoya dan Penyakit Serebrovaskular Kompleks, yang merupakan pusat layanan unggulan nasional yang difokuskan pada diagnosis, pengobatan, pelatihan, dan riset penyakit otak vaskular langka seperti moyamoya.

Direktur Utama RS PON, dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS mengungkapkan, proporsi pasien stroke di bawah usia 45 tahun kini semakin mendekati jumlah kasus pada kelompok usia lanjut.

“Kasus stroke di usia muda tidak selalu disebabkan pola hidup tidak sehat atau penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes. Ada juga yang disebabkan kelainan genetik seperti moyamoya,” ujar dr Andin di RS PON, Sabtu (24/5).

Moyamoya sendiri asal namanya dari bahasa Jepang yang merupakan kondisi penyempitan arteri karotis interna di otak yang memicu terbentuknya jaringan pembuluh darah kecil sebagai kompensasi, menyerupai kepulan asap pada gambar angiogram.

Penyakit ini dapat menyebabkan stroke iskemik maupun perdarahan otak, bahkan pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Meski tergolong langka, RS PON sudah menangani sekitar 70 kasus moyamoya setiap tahun. Angka ini diyakini jauh di bawah jumlah riil di lapangan, karena keterbatasan pendataan nasional. Sebagai perbandingan, insiden moyamoya di Jepang tercatat sekitar 0,5 kasus per 100.000 penduduk.

Peluncuran pusat moyamoya ini dilakukan melalui kerja sama internasional dengan Far East Neurosurgical Institute, Jepang, yang dipimpin Prof. Rokuya Tanikawa, ahli bedah bypass otak kelas dunia. Acara peresmian juga dirangkaikan dengan Workshop Internasional Bypass Pembuluh Darah Otak dan Penanganan Kasus Kompleks Bedah Saraf, diikuti hampir 100 peserta dari berbagai rumah sakit di Indonesia.

Pakar dari Amerika Serikat, Hong Kong, Thailand, Malaysia, Filipina, Meksiko, Portugal, hingga Kolombia hadir dalam kegiatan ini, termasuk perwakilan dari University of Pittsburgh (USA) dan Queen Elizabeth Hospital (Hong Kong). Mereka berbagi teknik bedah saraf vaskular terkini yang diharapkan bisa diadaptasi secara luas di Indonesia.

Di kesempatan yang sama, ahli bedah saraf vaskular RS PON, dr. Muhammad Kusdiansah, SpBS menekankan pentingnya deteksi dini untuk pasien moyamoya.

“Banyak pasien datang dalam kondisi terlambat karena gejalanya mirip stroke biasa. Dengan adanya pusat ini, kami ingin memperluas pelatihan dokter dari seluruh Indonesia agar layanan deteksi dan pengobatan bisa merata,” katanya.

Seluruh layanan di pusat ini sudah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan. Pemeriksaan seperti brain check-up, MRI, MRA, dan CT angio dapat diakses gratis bagi pasien yang memiliki indikasi medis.

Dokter Adin menambahkan, kadang orang merasa aman karena rajin olahraga, tidak merokok, atau tidak punya diabetes.

“Namun, stroke genetik bisa menyerang tanpa tanda klasik. Karena itu, brain check-up menjadi penting,” ujarnya.

Sejak awal 2020, RS PON secara intensif mengembangkan layanan bedah bypass otak, dengan rata-rata menangani 70 pasien per tahun.

Saat ini, tim multidisiplin RS PON, mulai dari neurolog, radiolog, hingga bedah saraf, telah membangun sistem rujukan yang solid.

Ke depan, RS PON berencana memperluas jejaring layanan moyamoya di berbagai daerah.

“Kalau kasus makin banyak, tidak semua harus dirujuk ke RS PON. Akan dibentuk sentra-sentra di daerah, sehingga akses pasien semakin mudah,” pungkas dr. Kusdiansah.

RS PON saat ini juga tengah menyusun data nasional untuk memetakan angka kejadian dan faktor risiko stroke genetik di Indonesia, yang selama ini belum terdokumentasi dengan baik.

Diharapkan, dalam lima tahun mendatang, Indonesia sudah memiliki sistem pendataan dan protokol layanan moyamoya yang setara dengan standar internasional. (NVR)

By editor2