GAZA, AKURATNEWS.co – Di sebuah lorong sempit reruntuhan kota Gaza, suara anak-anak yang dulu ramai kini telah berganti senyap.

Asap dan debu menggantung di udara, dan tangis lirih menjadi pengingat bahwa kehidupan di wilayah ini tak pernah benar-benar damai.

Namun kini, rasa sepi itu bertambah menyesakkan. Bukan karena bom, bukan hanya karena kelaparan, tapi karena perasaan ditinggalkan dunia.

“Dulu kami selalu ada di layar televisi, di media sosial, dibela di jalan-jalan kota asing. Sekarang? Gaza hilang,” bisik Umm Mustafa, seorang ibu lima anak kepada CNN, Senin (16/6).

Sejak perang besar antara Iran dan Israel meletus pada 13 Juni lalu, perhatian dunia benar-benar teralihkan. Gaza, yang sudah porak-poranda sejak invasi Israel akhir 2023, kini seperti lenyap dari peta perhatian global.

Bagi Mohammad, seorang pria paruh baya yang kini kehilangan rumah, hidupnya berubah total sejak blokade Israel menghimpit kehidupan di Gaza.

Ia menyaksikan sendiri, bagaimana kerabatnya tewas tertembak saat mencoba mengantre bantuan makanan yang dijanjikan.

“Mereka menembak orang-orang di depan mata saya. Kami hanya ingin sekarung tepung. Tapi mereka bilang kami mencurigakan,” katanya lirih.

Laporan dari otoritas kesehatan Gaza menyebut, lebih dari 300 orang tewas hanya karena berusaha mendapatkan bantuan di titik distribusi.

Ironisnya, bantuan itu datang setelah Israel mengizinkan sejumlah organisasi masuk, dengan syarat yang sangat ketat dan jumlah yang tak mencukupi.

Konflik baru yang melibatkan Iran kini menutup perhatian dunia. Pidato-pidato pemimpin dunia, headline utama media internasional, hingga debat di PBB. Semua berkutat pada konfrontasi antara dua negara besar tersebut. Gaza tidak lagi disebut.

“Tak ada yang peduli. Dulu setidaknya orang luar berdemo, membuat petisi, mengirim donasi. Sekarang? Tidak ada air, tidak ada makanan, tidak ada berita,” ujar Abu Juma’a dari Gaza City, dengan tatapan kosong.

Sejak serangan dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 55.300 orang tewas, setara dengan 2,5 persen dari populasi Gaza.

Data ini, menurut laporan The Lancet, kemungkinan jauh lebih kecil dari kenyataan. Lebih dari 128.000 lainnya luka-luka, banyak di antaranya anak-anak dan perempuan.

Namun, sejak Israel melarang jurnalis asing masuk ke Gaza, verifikasi independen terhadap angka-angka ini makin sulit.

Dunia seolah dipaksa untuk percaya pada angka-angka yang hanya muncul dari sumber resmi, padahal kebenaran seringkali terkubur di bawah puing-puing.

Di sebuah kamp pengungsian yang dibangun darurat dengan terpal sobek, Bisan Qwaider memeluk sepatu ayahnya, satu-satunya benda yang tersisa darinya. Ayah Bisan terbunuh dalam serangan udara saat sedang berjalan mencari air bersih untuk keluarganya.

“Saya tidak punya apa-apa lagi. Hanya sepatunya. Dunia diam saja melihat ini terjadi,” katanya sambil menangis.

Harapan kini menjadi barang mewah di Gaza. Bahkan organisasi seperti Palang Merah Internasional dan PBB pun hanya bisa memberikan sebagian kecil dari apa yang dibutuhkan.

Produk kebersihan, selimut, hingga obat-obatan nyaris tak ada yang masuk. Harga makanan melonjak ratusan kali lipat. Sejumput nasi menjadi lebih berharga dari sebatang emas.

“Jika kamu belum mati karena bom, kamu bisa mati karena lapar,” ujar seorang warga tua bernama Abu Mohammed.

Di layar kaca dunia, ledakan di Iran dan Israel menjadi perhatian utama. Pemimpin dunia bicara keras soal “respon militer”, “ancaman nuklir”, dan “eskalasi regional”. Namun tak satu pun menyebut Gaza lagi.

“Kami tidak butuh pernyataan panjang. Kami hanya ingin hidup. Kami tidak minta banyak. Tapi dunia menutup mata,” kata Umm Mustafa seraya mengusap kepala anaknya yang tertidur tanpa makan malam.

Gaza mungkin tak lagi masuk dalam berita utama, tetapi di setiap rumah yang hancur, di setiap jenazah yang terbungkus kain lusuh, ada satu suara kecil yang terus berteriak: “Kami masih di sini. Tolong lihat kami.” (NVR)

By editor2