JAKARTA, AKURATNEWS.co – Puasa Ramadhanmerupakan puasa wajib bagi setiap muslim. Namun ada hal yang perlu kita ketahui, bahwa puasa itu tidak hanya bermakna menahan haus dan lapar, tetapi juga menahan pandangan mata dari melihat hal-ha buruk, menahan nafsu dan amarah, menjaga lisan dan lain-lain.
Kalau puasa dimaknai hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja, orang awam pun mampu melakukannya. Lalu bagaimana menjalankan ibadah puasa yang semestinya?.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zuur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga”
(HR. Bukhori no.1903).
“Zuur”, pada hadits di atas adalah perkataan dusta, persaksian palsu, untuk membenarkan yang keliru. “Mengamalkannya”, maksudnya melakukan tindakan-tindakan runtutan dari perkataan dustanya.
Termasuk dalam hal ini, segala macam perbuatan yang menyimpang dari kebenaran; yakni maksiat. Adapun makna tindakan bodoh di sini, adalah bodoh (tidak peduli) terhadap hak sesama. Seperti iri, hasad, menebar kebencian sesama muslim, dan lain-lain.
Untuk meraih kesempurnaan puasa, tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan dan minum saja. Namun harus ada perjuangan meningalkan perbuatan sia-sia dan maksiat. Yang mana hal-hal tersebut akan merusak pahala puasa.
Bila puasa sekedar menahan lapar dan dahaga saja, semua orang bisa melakukannya, tidak yang awam, tidak yang sudah tau agama. Namun, puasa lahir dan batin; yakni puasa dari makan minum, dan juga dari perbuatan-perbuatan maksiat yang dapat menodai kesucian hati dan merusak pahala puasa, tak semua orang dapat melakukan. Kecuali mereka yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.
Disinilah peluang untuk berlomba-lomba dalam meraih kualitas puasa terbaik. Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya./Ib.
