JAKARTA, AKURATNEWS.co – Setelah 38 tahun berkarya, Slank kembali menancapkan taring kritik sosial lewat album studio ke-26 bertajuk ‘Republik Fufufafa’.
Album ini resmi dirilis 6 Juni 2026 dan langsung memancing tanya publik, bukan hanya karena musiknya, tapi juga karena judul yang selama setahun terakhir identik dengan polemik politik nasional.
Single ‘Republik Fufafa’ sendiri sudah dirilis 27 Desember 2025, tapi baru sekarang Slank membongkar utuh konsep albumnya.
Berbeda dari album sebelumnya, Slank mengaku menulis ‘Republik Fufufafa’ seperti wartawan yang bikin lagu.
“Ibaratnya kalau kita punya nada kosong, terus kita baca koran, itu lirik dimasukin ke nada. Seperti itu kita bikin album. Most of the song kayak gitu,” kata vokalis Slank, Kaka di Markas Slank, Gang Potlot, Jakarta, Jumat (5/6).
Lanjut Kaka, semua lirik di album ini bukan karangan.
“Berita-berita yang kita cuplik, kita masukin ke nada-nadanya. Jadi bukan kita mengada-ada. And who knows ya, Fufufafa itu apa atau siapa. Kita gak tahu,” ucapnya.
Proses rekaman dimulai saat bulan Ramadhan 2025 di Flat 5 Studio milik Ridho, lalu dilanjutkan di Parah Studio Potlot 14. Selama dua minggu Slank puasa bareng, rekaman dari pagi sampai buka puasa,
Meski judul album identik dengan akun anonim yang heboh di 2024-2025, Slank menegaskan mereka tidak sedang menuding individu. Drumer Slank, Bimbim menyebut Fufufafa sebagai simbol.
“Sebenarnya Fufufafa itu melambangkan kekhawatiran kita sama Indonesia pernah jadi bangsa yang paling kurang ajar bermedia sosial. Di tahun berapa tuh? Googling deh. Itu kita shock juga, ‘Wih, apa iya ya?’ Dan saat itu ada satu akun yang kita anggap mewakili bahwa, emang bener nih,” beber Bimbim.
Bimbim juga menegaskan jika identitas pemilik akun itu tidak penting.
“Entah siapa dia, kita nggak tahu. Nggak ada pun yang tahu, nggak ada yang ngaku juga. Jadi itulah mengapa kita anggap seksi dari Fufufafa itu,” ucapnya.
Musikalitas ‘Republik Fufufafa’ sengaja tidak neko-neko. Dari 10 lagu baru, Slank meramu rock alternatif, rock n’ roll, sampai ballad melankolis. Lirik terdengar sederhana tapi langsung, sesuai karakter ‘slengean’ yang jadi DNA Slank sejak 1983.
Bimbim pun menyebut album ini seperti ‘kode keras’ untuk mengingatkan lagi siapa Slank sebenarnya.
“Kami nggak ke mana-mana. Dari dulu sampai sekarang tetap ngomongin cinta, sosial, lingkungan, dan anak muda,” ucapnya.
Gitaris Slank, Ridho sendiri menolak istilah jika Slank “balik ke setelan pabrik” lantaran dianggap baru sekarang kritis lagi.
“Kalau kata gue, kalian jangan nulis ‘setelan pabrik’, berarti kalian nggak ngerti Slank,” ucapnya.
Ia menunjuk album ‘Pala Lu Peyang’ di 2017 sebagai bukti protes ke pemerintahan Jokowi periode pertama, dan album ‘Vaksin’ di 2021.
Slank pun sempat dituding meredup dalam kritik selama era Jokowi karena kedekatan personal. Soal ini Bimbim menyanggahnya.
“Sebenarnya Slank nggak ke mana-mana kok, mereka aja yang berubah,” selorohnya.
Lewat ‘Republik Fufufafa’, Slank juga menegaskan bahwa kegaduhan media sosial dan degradasi etika digital adalah ancaman nyata bagi demokrasi.
Berikut daftar lagu di album ‘Republik Fufufafa’:
1. Republik Fufufafa (Ciptaan: Bimbim)
2. Rusak Ancur (Ciptaan: Bimbim)
3. Jgn Rakus (Ciptaan: Kaka)
4. Di Dekatmu (Ciptaan: Kaka & Bimbim)
5. My Rinduku (Ciptaan: Bimbim)
6. Papa Sid (Ciptaan: Bimbim)
7. PPN 12% (Ciptaan: Bimbim)
8. Bunga Rindu (Ciptaan: Bimbim)
9. Buka Baju (Ciptaan: Bimbim)
10. Ku Tak Mungkin (Ciptaan: Bimbim).(NVR)
