JAKARTA, AKURATNEWS.co – Catatan merah menggores hajatan Piala Dunia 2026. Kerancuan terjadi ketika Iran yang bertanding di Negara Amerika Serikat tetapi harus bermarkas di Meksiko, karena larangan bermarkas di AS.

Ini merupakan kejadian yang tak wajar untuk sebuah hajatan dunia bernama FIFA World Cup 2026, dimana seharusnya atlet nggak boleh dicampuradukkan dengan politik.

Akibat perlakan tersebut, Timnas Iran dgagal melaju ke babak 32 b esar Piala Dunia 2026, setelah semua pertandingan yang mereka mainkan dalam  babak  penyisihan grup semua berhasil imbang, yaitu aitu 0-0 melawan Belgia, 2-2 melawan New Zealand, dan 1-1 melawan Mesir.

Peluang lolos sebagai peringkat 3  terbaik hilang setelah Aljazair bermain imbang 3-3 lawan Austria.

Penyerang timnas Iran Mehdi Taremi melontarkan kritik keras kepada FIFA yang dinilainya tidak memberikan perlakuan adil kepada timnya sepanjang turnamen.

Menurutnya, timnas Iran menghadapi berbagai kendala nonteknis sejak awal Piala Dunia 2026. Mulai dari persoalan logistik, pembatasan visa bagi staf tim, hingga perjalanan lintas negara yang melelahkan, seluruhnya dinilai memengaruhi performa Iran di lapangan.

Iran terpaksa menjadikan Tijuana, Meksiko, sebagai markas selama turnamen. Padahal, sebelumnya mereka dijadwalkan bermarkas di Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Perubahan itu dilakukan pada akhir Mei menyusul konflik militer yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Setelah menjalani pertandingan melawan Mesir di Seattle, seluruh skuad Iran kembali harus terbang ke Tijuana. Kondisi tersebut membuat para pemain menjalani perjalanan panjang setiap kali bertanding di Amerika Serikat.

Taremi mengungkapkan bahwa FIFA, termasuk Presiden Gianni Infantino, sebelumnya berjanji membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi Iran. Namun, hingga fase grup berakhir dan Iran dipastikan tersingkir, menurutnya, janji tersebut belum terealisasi.

“Piala Dunia 2026 di Amerika yang bencana, bencana. Maksud saya, FIFA harus menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi sayangnya mereka tidak dapat menyelesaikannya sejak awal. Bapak Infantino datang ke ruang ganti setelah pertandingan pertama melawan Selandia Baru dan berkata, ‘Ini baru permulaan’,” kata Mehdi Taremi, Minggu (28/6/2026).

Taremi mengungkapkan, sebanyak 13 staf timnas Iran tidak dapat memasuki Amerika Serikat karena persoalan visa. Akibatnya, tim kehilangan dukungan logistik dan pemulihan yang dinilai sangat penting selama turnamen.

“Kami tidak memiliki tim logistik di sini, mereka tidak bisa masuk hanya karena alasan visa. Bagaimana mungkin setiap pertandingan kami selalu harus bepergian dari Tijuana?” ujarnya.

Meski mengapresiasi sambutan masyarakat Meksiko, Taremi menilai kondisi tersebut tidak seharusnya dialami tim peserta dalam ajang sebesar Piala Dunia.

“Kami menyukai orang-orang di Tijuana. Kami menyukai Meksiko. Mereka orang-orang yang rendah hati dan kami menyayangi mereka, tetapi sebagai pemain profesional dalam kompetisi profesional, ini tidak benar dan ini tidak adil,” tegasnya.

Pemain berusia 33 tahun itu kembali menegaskan, Iran tidak mendapatkan perlakuan yang setara dengan negara peserta lainnya.

“Ini tidak adil. Menurut kami, ini tidak adil. Apakah ini adil bagi FIFA? Oke, bagus untuk mereka. Namun, ini tidak adil. Siapa yang mau membantu kami? Jika mereka ingin kami keluar, baiklah. Mari kita keluar. Kami tidak memiliki tim pemulihan atau logistik untuk membantu kami. Kami selalu mengeluh tentang hal-hal ini tetapi tidak ada satu pun yang membantu,” bebernya.

Sebelumnya, dalam pidato pembukaan Piala Dunia di Mexico City, Presiden FIFA Gianni Infantino sempat menyatakan kesiapannya melakukan apa pun agar Iran dapat mengikuti turnamen, bahkan menyebut bersedia “mengendarai bus dari Teheran” demi membawa tim tersebut ke Piala Dunia.

Selain persoalan perjalanan yang harus ditempuh dari Tijuana ke Amerika Serikat, dan 13 staf yang tidak memperoleh visa masuk, Iran juga dihadapkan pada kontroversi gol Khalizadeh saat menghadapi Mesir.

Gol yang tercipta dari bola liar usai situasi tendangan bebas itu memicu perdebatan dan ramai diperbincangkan warganet di media sosial.

Saat ditanya apakah ia merasa Iran benar-benar diinginkan tampil di Piala Dunia 2026, Taremi memberikan jawaban bernada sindiran.

“Kita harus melawan segala hal di sini. Saya tidak tahu apa yang orang inginkan. Dari sudut pandang kami, saya rasa mereka menyukainya. Bagaimana mungkin jika kita bermain 90 menit, lalu harus kembali ke Tijuana?” tuturnya./Ib.

By Editor1