JAKARTA, AKURATNEWS.co – Mengusung semangat pemulihan dan rekonsiliasi, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menggelar Talkshow bertajuk “Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit” di The Tribrata, Jakarta, pada Jumat (21/8/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Kolaborasi Implementasi Pemenuhan Hak dan Perlindungan Korban Ekstremisme Berbasis Kekerasan dan Tindak Pidana Terorisme dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme Tahun 2026.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menegaskan komitmen penuh negara dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak para korban terorisme secara menyeluruh.

“Negara hadir merawat ruang kebersamaan, upaya pelindungan dan pemenuhan hak korban difokuskan pada pemberian bantuan medis, rehabilitasi psikologis dan psikososial, santunan bagi keluarga serta kompensasi,” tegas Eddy Hartono, di Jakarta, pada Jumat (21/8/2026).

Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor guna memastikan proses pemulihan para penyintas dapat berjalan secara maksimal dan berkesinambungan.

“Kolaborasi kita dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil untuk mengoptimalkan pemulihan penyintas,” tambahnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Ketua LPSK Susilaningtyas, S.H., M.H., menekankan pentingnya pendampingan jangka panjang bagi para penyintas. Pemulihan trauma merupakan proses berkesinambungan yang memerlukan perhatian lintas sektor.

“Peristiwanya terjadi sekali, tetapi trauma dan proses pemulihan itu berlangsung seumur hidup. Kompensasi memang diberikan sekali, namun kami terus mendukung pemulihan medis, psikologis, hingga psikososial. Dalam beberapa kasus, meskipun korban telah menerima dukungan psikologis, pemicu (trigger) tertentu masih dapat membangkitkan kembali memori trauma tersebut,” ungkap perwakilan LPSK.

Kisah Titik Balik Penyintas

Kisah ketabahan dan titik balik pemulihan dibagikan oleh Tony Soemarno penyintas Tindak Pidana Terorisme Bom Hotel J.W. Marriot Tahun 2003 yang juga merupakan penulis buku berjudul “The Power of Forgiveness”. Toni menceritakan bagaimana ia berhasil mengolah luka menjadi kekuatan untuk bangkit hingga aktif dalam upaya pencerahan dan rekonsiliasi.

“Awalnya sangat sulit untuk bangkit. Namun, saya sampai pada satu titik di mana saya berpikir bahwa pelaku teror pun manusia yang bisa berbuat salah. Saya memilih untuk saling memaafkan dan tidak ingin menyimpan dendam, karena hati yang damai adalah apa yang Tuhan kehendaki,” tutur Tony.

Titik balik tersebut mendorong dirinya untuk aktif mendatangi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan bertemu langsung dengan narapidana terorisme (napiter). Pengalaman tersebut kemudian dibukukan dengan pendampingan penuh dari BNPT.

Pesan pengampunan senada disampaikan oleh Mariane Ka’awoan penyintas bom Pasar Tentena Poso Tahun 2005 yang menekankan pentingnya memutus rantai kebencian demi kedamaian batin dan masa depan.

“Kalau saya tidak memaafkan, saya tidak akan memiliki kedamaian dan sukacita. Kebencian tidak pernah mewariskan kedamaian,” tegas Mariane.

Healing Through Memories

Bertindak sebagai moderator, Guru Besar FEB Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, menutup sesi diskusi dengan menggarisbawahi makna mendalam dari proses pemulihan para penyintas bagi bangsa.

“Kita sering mendengar istilah healing through memories. Ini bukan berarti kita hidup terus-menerus di masa lalu, melainkan menjadi pengingat agar kebencian tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Kita mengingat mereka yang telah mendahului kita, bukan hanya dikenang karena cara mereka meninggal, melainkan bagaimana kita membawa nilai-nilai mereka bersama kita untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Prof. Rhenald Kasali.

Melalui momentum Peringatan Hari Internasional Korban Terorisme Tahun 2026 ini, BNPT bersama LPSK dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus hadir mendampingi para penyintas, merawat ingatan tanpa membangkitkan kebencian, serta mewujudkan Indonesia yang damai dan toleran./Ib.

By Editor1