BEKASI, AKURATNEWS.co – Langkah nyata dalam mengatasi kemiskinan dan menjaga ketahanan pangan kembali diambil Pondok Pesantren Nuu Waar-Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) dan lembaga filantropi Global Muslim Charity (GMC).
Lewat program Bantuan Pangan Ubi, yang tidak hanya membantu masyarakat pra-sejahtera di perkotaan, tetapi juga memberdayakan petani lokal. Program ini menjadi wujud dari peribahasa “Sekali Dayung, Satu-Dua Pulau Terlampaui,” yang menjadi dasar pemikiran di balik inisiatif tersebut.
KH. MZ. Fadzlan Rabbany Garamatan, Presiden AFKN menjelaskan, program ini dirancang untuk menyejahterakan petani desa dengan menyerap hasil panen ubi jalar mereka dengan harga yang pantas, sekaligus memberikan bantuan pangan kepada masyarakat miskin.
“Ini bukan hanya soal membantu masyarakat pra-sejahtera di kota, tetapi juga memberdayakan petani lokal agar mereka bisa lebih sejahtera,” ujarnya saat menyerahkan bantuan pangan ubi sebanyak 10 ton kepada 2.000 warga Bekasi di Kecamatan Setu, Jumat (20/9).
Bantuan yang juga merupakan bagian dari kegiatan “Sedekah Jum’at Berkah” disebut Ahyudin berasal dari hasil panen raya petani di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
“Lebih dari 1.400 petani tidak perlu khawatir lagi memasarkan hasil panen mereka, karena ubi yang diproduksi terserap untuk program ini,” kata Ahyudin.
Ubi jalar yang merupakan bahan pangan dengan potensi tinggi, dianggap penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Dr. Hariyadi, ahli pangan nasional dari Pusat Kajian Pertanian Organisme Terpadu (PAKET), Malang, menyebut ubi jalar sebagai alternatif yang potensial menggantikan beras di masa depan.
“Tanaman ini memiliki masa panen yang singkat, hanya tiga bulan, dan bisa langsung dikonsumsi atau diolah menjadi tepung ubi. Ini sangat membantu dalam menjaga stok pangan,” jelas Dr. Hariyadi.
Tidak hanya berhenti di dalam negeri, program ini juga mencakup skala global. AFKN dan GMC telah merencanakan pengiriman 1.000 ton ubi untuk membantu pengungsi Palestina di Gaza yang mengalami kelaparan akibat blokade distribusi makanan.
Ubi jalar yang akan dikirimkan pada Maret 2025 ini akan berasal dari lahan pertanian seluas 50 hektar di Tasikmalaya, Jawa Barat.
“Petani relawan pangan di desa Cintabodas telah mulai menanam bibit ubi, dan pada awal 2025 kita akan melakukan panen raya,” tambah Ahyudin.
KH. Fadzlan pun optimistis bahwa hasil panen tersebut mampu memenuhi kebutuhan 1.000 ton ubi untuk Palestina.
Nantinya, ubi akan dikemas dalam 40 kontainer dan dikirim dengan Kapal Kemanusiaan Indonesia-Palestina melalui Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Aqaba di Yordania.
Menurut Dr. Hariyadi, ubi jalar memiliki keunggulan lain, yakni kadar gula yang lebih rendah dibandingkan beras dan kentang, menjadikannya lebih aman dikonsumsi penderita diabetes.
“Ubi jalar bisa menjadi solusi pangan masa depan yang tidak hanya bergizi tetapi juga aman bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Dengan berbagai manfaatnya, Program Bantuan Pangan Ubi ini tidak hanya memberikan bantuan langsung bagi masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat sektor pertanian lokal dan memberikan solusi bagi ketahanan pangan di masa depan. (NVR)
