JAKARTA, AKURATNEWS.co  – Utang pemerintah Amerika Serikat menembus 40 triliun dolar AS, hampir dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu. Besarnya beban itu mulai memunculkan kekhawatiran terhadap risiko krisis jika tren tersebut terus berlanjut.

Xinhua dikutip Senin, 24 Agustus, melaporkan, utang pemerintah AS masih sebesar 19,4 triliun dolar AS sekitar 10 tahun lalu. Nilainya melonjak setelah pengeluaran besar selama pandemi COVID-19 dan defisit anggaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Tekanan terhadap anggaran juga belum mereda. Departemen Keuangan AS mencatat defisit bulanan 432,3 miliar dolar AS pada Juli, tertinggi sejak Maret 2021.

Utang federal AS saat ini setara sekitar 123 persen dari produk domestik bruto atau PDB.

Studi Wharton Business School, University of Pennsylvania, yang dirilis pada Juni menyebut rasio utang terhadap PDB yang masih dapat ditanggung perekonomian AS berada di sekitar 210 persen.

Menurut studi tersebut, jika rasio melewati level itu, tambahan pajak atas pendapatan tenaga kerja secara luas tidak lagi cukup untuk membiayai pembayaran bunga sesuai tingkat imbal hasil yang diminta pasar keuangan.

Clay Ramsay, peneliti Center for International and Security Studies, University of Maryland, mengatakan krisis utang nasional dapat membawa dampak yang berada “di antara Resesi Besar 2008-2009 dan Depresi Besar pada 1930-an”.

“Bahkan setelah ekonomi berhenti menyusut, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangunnya kembali,” kata Ramsay kepada Xinhua, seperti dilansir dari VOI, Selasa (25/8).

Menurut Ramsay, dampaknya tidak hanya ekonomi. Krisis juga dapat membuat perdebatan mengenai pajak penghasilan dan pajak kekayaan semakin tajam.

Ramsay mencatat 10 persen rumah tangga teratas saat ini memiliki 64 persen kekayaan nasional. Jika tren berlanjut, ia menilai ketimpangan tersebut dapat semakin besar ketika krisis utang terjadi.

Ia juga merujuk model Wharton Business School yang menunjukkan utang AS dapat menjadi tidak berkelanjutan pada 2048 jika tren sekarang terus berlanjut.

Model tersebut belum memperhitungkan guncangan besar. Ramsay mencontohkan kemungkinan pecahnya gelembung kecerdasan buatan yang dapat mempercepat proses itu.

Menurut Ramsay, utang dapat terlihat masih aman sampai investor obligasi menilai pemerintah tidak mampu melakukan penyesuaian yang diperlukan.

“Jika investor obligasi percaya pemerintah tidak bisa melakukan reformasi, keadaan bisa memburuk dengan cepat,” ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengecilkan kekhawatiran terhadap angka utang 40 triliun dolar AS dalam wawancara dengan CNBC.

“Tidak ada sesuatu yang istimewa dari angka 40 triliun,” kata Bessent.

Ia menilai AS dapat mengurangi beban utang melalui pertumbuhan ekonomi. Pemerintahan Presiden Donald Trump, menurut Bessent, juga berencana mengandalkan pertumbuhan ekonomi global dan upaya memperbaiki kondisi fiskal pada masa mendatang.

Meski nilainya sangat besar, utang sejauh ini belum banyak menjadi isu menjelang pemilu paruh waktu November.

“Angkanya begitu besar sehingga sulit bagi orang untuk memahaminya atau melihat dampaknya terhadap kehidupan mereka,” kata peneliti senior Brookings Institution Darrell West./Teg.

By Editor1