JAKARTA, AKURATNEWS co – Di tengah bisingnya rilisan musik, James Leo memilih jalan sebaliknya.

Baru 20 tahun, mahasiswa perhotelan di Eropa yang musisi Gen Z ini nggak butuh teriak buat didengar. Dia cukup berbisik. Dan anehnya, kita semua dengerin.

Juli 2026, James resmi melepas album debutnya bertajuk ‘Barely Salted’. Konsepnya simple tapi nampol, “a quiet album about loud emotions”. 10 track yang isinya curhat paling jujur yang pernah kamu denger jam 2 pagi.

Kalau ‘Life’s Weird'(with Amanda Haryono kemarin menjadi pembuka buat nangkep anxiety dan melankolia anak muda, sekarang James naikin taruhannya.

‘I Find You’ ditunjuk jadi focus track. Bukan sekadar lagu galau patah hati yang template. Ini lebih ke meditasi, tentang gimana memori seseorang bisa nyelip diam-diam di seribu pilihan kecil yang kita buat tiap hari. Ketemu mantan di playlist. Ketemu dia di rute ojek online. Hal-hal kecil yang nyeseknya nggak main-main.

Lanjutannya? Siapin telingamu buat ‘Lobster’. Sudah rilis duluan dan jadi single yang paling banyak dibicarain.

Kenapa ‘Lobster’ bikin ketagihan?
Vibe-nya sendiri pop romantis plus quirky. Manis tapi nggak nanggung.

Liriknya:
“Staying up with you having endless conversations
Be protecting you with my shell like these crustaceans
You’re my lobster together forever”

Ini ciri gen Z banget. Nggak bilang “I love you” doang. Bilangnya “you’re my lobster” alias soulmate, saling lindungin pake “cangkang”.

Tapi James juga realistis. Ada baris “You can’t forget all the pain, We can’t fix all the mistakes, But I’m with you all the way”.

Jadi ini bukan dongeng. Ini tentang milih bertahan walau berantakan. Makanya judulnya ‘Barely Salted,  manis, tapi nggak kemanisan.

Sound ‘Barely Salted’ juga nggak kebetulan berdiri sendiri. Ada Chikita Amanda sebagai produser utama, dibantu Andro Regantoro sebagai co-producer.

Terus buat vokal yang kerasa “langsung ke dada” itu, James mengaku disiplin banget. Dia asah suaranya di Bina Musik Jakarta bareng Vocal Coach Julius Firdaus. Hasilnya: vokal yang rentan, raw, tapi ngena.

Buat yang dengerin di Apple Music, cobain versi Dolby Atmos. Mixing-nya dipegang Sumantri Limin dan rasanya kayak James nyanyi di dalem kepalamu. Tiga dimensi banget.

Album yang sudah bisa didengerin di semua streaming platform di bawah label Wander ini disebut James kerap spontan dalam proses penulisan lagu.

“Lagu yang paling bagus itu yang spontan. Semalam nulis, terus ganti lagi, tambah lagi. Pas direkam, baru kerasa ceritanya. Seperti ‘Lobster’ itu idenya dari nonton serial ‘Friends’ terus kepikiran. Jadi dari hal kecil gitu,” beber James di sela penampilannya di Jakarta, Jumat (17/7).

Dia juga menyebut album ini rasanya kayak nge-vlog. Internal, nggak out loud. Curhat ke laptop, ke kamar, ke diri sendiri. Tapi somehow nyampe ke kita semua.

Di usia 20 tahun, James Leo nggak berusaha jadi yang paling keras. Dia cuma jujur. Dan di 2026, kejujuran itu justru yang paling keras kedengerannya. (NVR)

By editor2