Bela Iran, Houthi Kobarkan Perang Lawan Israel dan AS

0
Yahya Saree Juru Bicara Houthi

JAKARTA, AKURATNEWS.co — Perang Israel dan Iran semakin meluas. Setelah Amerika Serikat membela Israel dengan ikut membombardir Iran, kini  kelompok bersenjata Houthi di Yaman secara resmi menyatakan keterlibatannya dalam perang, menyatakan dukungan dan bergabung bersama Iran untuk melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Timur Tengah.

“Yaman telah resmi memasuki perang melawan AS dan Israel. Jauhkan kapal-kapal kalian dari perairan kami,” kata Jenderal Yahya Saree, juru bicara militer Houthi, dalam pernyataan pada Minggu (22/6/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah AS melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran dalam operasi Night Hammer pada Minggu dini hari. Setelahnya, militer Israel menggempur puluhan target di Iran, termasuk peluncur rudal.

Houthi merupakan bagian dari Poros Perlawanan, aliansi kelompok bersenjata yang didukung Iran dalam upaya menandingi pengaruh AS dan Israel di Timur Tengah.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pejabat AS maupun Israel mengenai deklarasi perang dari Houthi. Sebelumnya, kelompok tersebut telah memperingatkan akan melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal AS di Laut Merah jika Washington terlibat langsung dalam serangan terhadap Iran.

Sejak konflik Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, Houthi telah meluncurkan berbagai serangan terhadap kapal komersial dan kapal militer di Laut Merah. Serangan tersebut menjadi ancaman serius, membuat kapal perang AS kerap berada dalam jangkauan serangan Houthi.

Meski belum pernah mengenai kapal perang AS secara langsung, Pentagon memperingatkan pada Januari bahwa hanya masalah waktu sebelum rudal Houthi mengenai sasaran militer AS.

Respons Washington berupa serangkaian serangan udara terhadap infrastruktur militer Houthi dinilai belum efektif. Namun, pada awal Mei 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata, yang mencakup penghentian pengeboman oleh AS dan komitmen Houthi untuk menghentikan serangan terhadap kapal militer AS di Laut Merah.

Deklarasi perang terbaru dari Houthi berpotensi memperumit dinamika konflik di kawasan. Hingga kini, belum ada pernyataan serupa dari kelompok lain dalam Poros Perlawanan.

Kelompok Houthi sendiri dibentuk pada 1990-an dengan nama resmi Ansar Allah (Pendukung Allah), berakar dari gerakan kebangkitan keagamaan sekte Zaydi di Yaman. Pada 2022, sekitar 35% populasi Yaman menganut ajaran Zaydi.

Didukung oleh Iran, Houthi memulai kampanye militer pada 2011 melawan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang disokong Arab Saudi. Konflik tersebut memicu perang saudara berdarah yang masih berlangsung hingga kini.

Mereka kemudian bersekutu dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi di Yaman utara, memaksa Presiden Hadi melarikan diri ke luar negeri.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Houthi memiliki sekitar 350.000 pejuang dengan persenjataan canggih, termasuk rudal balistik, rudal jelajah, hingga kendaraan udara tak berawak (UAV). Salah satu senjata andalan mereka adalah rudal balistik Typhoon, tiruan dari rudal Qadr buatan Iran, dengan jangkauan 1.600 hingga 1.900 kilometer.

Kelompok ini rutin memamerkan kekuatan militernya melalui parade jalanan. Fabian Hintz, pakar rudal dari International Institute for Strategic Studies (IISS), menyatakan bahwa Houthi diduga memiliki UAV Shahed-136 buatan Iran, yang dikenal memiliki jangkauan sekitar 2.000 km.

Pada Desember 2024, Houthi mengeklaim telah meluncurkan rudal balistik hipersonik Palestine-2 ke sasaran militer di Tel Aviv. Rudal tersebut dikabarkan berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menyebabkan luka-luka serta kerusakan infrastruktur di permukiman sekitar Tel Aviv./Ib. Foto: Istimewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *